Ahlul Bait

SAYIDINA ALI BIN ABI THALIB

Nama : Ali bin Abi Thalib
Gelar : Amirul Mukminin
Julukan : Abu AL-Hasan, Abu Turab
Ayah : Abu Thalib (Bapa saudara Rasululullah SAW)
Ibu : Fatirnah binti Asad
Tempat/Tgl Lahir : Mekkah, Jum’at 13 Rajab
Hari/Tgl Wafat: Malam Jumaat, 21 Ramadhan 40 H.
Umur : 63 Tahun
Sebab Kematian : Ditikam oleh Abdurrahman ibnu Muljam
Makam : Najaf Al-Syarif
Jumlah Anak : 36 Orang, 18 laki-laki dan 18 perempuan
Anak laki-laki : 1. Hasan Mujtaba, 2. Husein, 3. Muhammad Hanafiah, 4. Abbas al-Akbar, yang dijuluki Abu Fadl, 5. Abdullah al-Akbar, 6. Ja’far al-Akbar, 7. Utsman al- Akbar, 8. Muhammad al-Ashghar, 9. Abdullah al-Ashghar, 10. Abdullah, yang dijuluki Abu Ali, 11. ‘Aun, 12. Yahya, 13. Muhammad al Ausath, 14. Utsman al Ashghar 15.Abbas al-Ashghar, 16. Ja’far al-Ashghar, 17. Umar al-Ashghar, 18. Umar al-Akbar
Anak Perempuan : 1. Zainab al-Kubra, 2. Zainab al-Sughra, 3.Ummu al-Hasan, 4. Ramlah al-Kubra, 4. Ramlah al-Sughra, 5. Ummu al-Hasan, 6. Nafisah, 7. Ruqoiyah al-Sughra, 8. Ruqoiyah al-Kubra, 9. Maimunah, 10. Zainab al-Sughra, 11. Ummu Hani, 12. Fatimah al-Sughra, 13.Umamah, 14.Khadijah al-Sughra, 15 Ummu Kaltsum, 16. Ummu Salamah, 17. Hamamah, 18. Ummu Kiram

Riwayat Hidup

Sayidina Ali bin Abi Thalib. adalah sepupu Rasulullah SAW. Dikisahkan bahwa pada saat ibunya. Fatimah hinti Asad, dalam keadaan hamil, beliau masih ikut bertawaf disekitar Ka’bah. Karena keletihan yang dialaminya lalu si ibu tadi duduk didepan pintu Ka’bah seraya memohon kepada Tuhannya agar memberinya kekuatan. Tiba-tiba tembok Ka’bah tersebut bergetar dan terbukalah dindingnya. Seketika itu pula Fatimah binti Asad masuk ke dalamnya dan terlahirlah di sana seorang bayi mungil yang kelak kemudian menjadi manusia besar, Sayidina Ali bin Abi Thalib.
Pembicaraan tentang Sayidina Ali bin Abi Thalib tidak dapat dipisahkan dengan Rasulullah SAW. Sebab sejak kecil beliau telah berada dalam didikan Rasulullah SAW, sebagaimana dikatakannya sendiri: “Nabi membesarkan aku dengan suapannya sendiri. Aku menyertai beliau kemanapun beliau pergi, seperti anak unta yang mengikuti induknya. Tiap hari aku dapatkan suatu hal baru dari kelakuannya yang mulia dan aku menerima serta mengikutinya sebagai suatu perintah”.
Setelah Rasulullah SAW mengumurnkan tentang kenabiannya, beliau menerima dan mengimaninya dan termasuk orang yang masuk islam pertama kali dari kaum laki-laki. Apapun yang dikerjakan dan diajarkan Rasulullah kepadanya, selalu diamalkan dan ditirunya. Sehingga beliau tidak pernah terkotori oleh kesyirikan atau tercemari oleh karakter, hina dan jahat dan tidak tenodai oleh kemaksiatan. Kepribadian beliau telah menyatu dengan Rasululullah SAW, baik dalam karakternya, pengetahuannya, pengorbanan diri, kesabaran, keberanian, kebaikan, kemurahan hati, kefasihan dalam berbicara dan berpidato.
Sejak masa kecilnya beliau telah menolong Rasulullah SAW dan terpaksa harus menggunakan kepalan tangannya dalam mengusir anak-anak kecil serta para gelandangan yang diperintah kaum kafir Qurays untuk mengganggu dan melempari batu kepada diri Rasulullah SAW.
Keberaniannya tidak tertandingi, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW: “Tiada pemuda sehebat Alî”. Dalam bidang keilmuan, Rasul menamakannya sebagai pintu ilmu. Bila ingin berbicara tentang kesalehan dan kesetiaannya, maka semaklah sabda Rasulullah SAW: “Jika kalian ingin tahu ilmunya Adam, kesalehan Nuh, kesetiaan lbrahim, keterpesonaan Mûsa, pelayanan dan kepantangan Isa, maka lihatlah kecemerlangan wajah Alî”. Beliau merupakan orang yang paling dekat hubungan kekekeluargaannya dengan Nabi SAW sebab, beliau bukan hanya sepupu nabi, tapi sekaligus sebagai anak asuhnya dan suami dari putrinya serta sebagai penerus kepemimpinan sepeninggalnya SAW.
Sejarah juga telah menjadi saksi nyata atas keberaniannya. Di setiap peperangan, beliau selalu saja menjadi orang yang terkemuka. Di perang Badar, hampir separuh dan jumlah musuh yang mati, tewas di ujung pedang Sayidina Ali. Di perang Uhud, yang mana musuh Islam lagi-lagi dipimpin oleh Abu Sofyan dan keluarga Umayyah yang sangat memusuhi Nabi SAW, Sayidina Ali a.s kembali memainkan perann yang sangat penting yaitu ketika sebagian sahabat tidak lagi mendengarkan wasiat Rasulullah agar tidak turun dari atas gunung, namun mereka tetap turun sehingga orang kafir Qurays mengambil kedudukan mereka, Sayidina Ali bin Abi Thalib. segera datang untuk menyelamatkan diri nabi dan sekaligus menghalau serangan itu.
Perang Khandak juga menjadi saksi nyata keberanian Sayidina Ali bin Abi Thalib a.s. ketika memerangi Amar bin Abdi Wud. Dengan satu tebasan pedangnya yang bernama dzulfikar, Amar bin Abdi Wud terbelah menjadi dua bagian. Demikian pula halnya dengan perang Khaibar, di saat para sahabat tidak mampu membuka benteng Khaibar, Nabi SAW ber-sabda: “Besok, akan aku serahkan bendera kepada seseorang yang tidak akan melarikan diri, dia akan menyerang berulang-ulang dan Allah akan mengaruniakan kemenangan baginya. Allah dan Rasul-Nya mencintainya dan dia mencintai Allah dan Rasul-Nya”. Maka, seluruh sahabat pun berangan-angan untuk mendapatkan kemuliaan tersebut. Namun, temyata Sayidina Ali bin Abi Thalib yang mendapat kehormatan itu serta mampu menghancurkan benteng Khaibar dan berhasil membunuh seorang perajurit musuh yang berani bernama Marhab lalu menebasnya hingga terbelah menjadi dua bagian.
Begitulah kegagahan yang ditampakkan oleh Sayidina Ali dalam menghadapi musuh islam serta dalam membela Allah dan Rasul-Nya. Tidak syak lagi bahwa seluruh kebidupan Sayidina Ali bin Abi Thalib dipersembahkan untuk Rasul demi keberhasilan rencana Allah. Kecintaan yang mendalam kepada Rasulullah benar-benar terbukti diakhir perjwangannya. Penderitaan dan kesedihan dalam medan perjwangan mewarnai kehidupannya. Namun, penderitaan dan kesedihan yang paling dirasakan adalah saat ditinggalkan Rasulullah SAW. Tidak cukup itu, 75 hari kemudian istrinya, Fatimah Zahra, juga meninggal dunia.
Kepergian Rasululullah SAW telah membawa angin lain dalam kehidupan Sayidina Ali. Terjadinya perternuan Saqifah yang menghasilkan pemilihan khalifah pertama, baru didengarnya setelah pulang dari kuburan Rasulullah SAW. Sebab, pemilihan khalifah itu menurut sejarah memang terjadi saat Rasulullah belum di makamkan. Pada tahun ke-13 H, khalifah pertama, Abu Bakar as-Shiddiq, meninggal dunia dan menunjuk khalifah ke-2, Umar bin Khaththab sebagai penggantinya. Sepuluh tahun lamanya khalifah ke-2 memimpin dan pada tahun ke-23 H, beliau juga wafat. Namun, sebelum wafatnya, khalifah pertama telah menunjuk 6 orang calon pengganti dan Sayidina Ali termasuk salah seorang dari mereka. Kemudian terpilihlah khalifah Utsman bin Affan. Sedang Sayidina Ali bin Abi Thalib tidak terpilih karena menolak syarat yang diajukan Abdurrahman bin Auf yaitu agar mengikuti apa yang diperbuat khalifah pertama dan kedua dan mengatakan akan mengikuti apa yang sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya.
Pada tahun 35 H, khalifah Utsman terbunuh dan kaum muslimin secara aklamasi memilih serta menunjuk Sayidina Ali sebagai khalifah dan pengganti Rasululullah SAW dan sejak itu beliau memimpin negara Islam tersebut. Selama masa kekhalifahannya yang hampir 4 tahun 9 bulan, Ali mengikuti cara Nabi dan mulai menyusun sistem yang islami dengan membentuk gerakan spiritual dan pembaharuan.
Dalam merealisasikan usahanya, beliau menghadapi banyak tentangan dan peperangan, sebab, tidak dapat dimungkiri bahwa gerakan pembaharuan yang dicanangkannya dapat megagalkan dan menghancurkan keuntungan-keuntungan pribadi dan beberapa kelompok yang merasa dirugikan. Akhirnya, terjadilah perang Jamal dekat Bashrah antara beliau dengan Talhah dan Zubair yang didukung oleh Mua’wiyah, yang mana di dalamnya Aisyah “Ummul Mukminin” ikut keluar untuk memerangi Sayidina Ali bin Abi Thalib Peperangan pun tak dapat dihindari, dan akhirnya pasukan Sayidina Ali  berhasil memenangkan peperangan itu sementara Aisyah “Ummul Mu’rninin” dipulangkan secara terhormat kerumahnya.
Kemudian terjadi “perang Siffin” yaitu peperangan antara beliau melawan kelompok Mu’awiyah, sebagai kelompok oposisi untuk kepentingan pribadi yang melaungkan negara yang sah. Peperangan itu terjadi di perbatasan Iraq dan Syiria dan berlangsung selama setengah tahun. Beliau juga memerangi Khawarij (orang yang keluar dan lingkup Islam) di Nahrawan, yang dikenal dengan nama “perang Nahrawan”. Oleh karena itu, hampir sebagian besar hari-hari pemerintahan Sayidina Ali bin Abi Thalib digunakan untuk peperangan interim melawan pihak- pihak oposisi yang sangat merusakan dan merugikan keabsahan negara Islam.
Akhirnya, menjelang subuh, 19 Ramadhan 40 H, ketika sedang salat di masjid Kufah, kepala beliau ditebas dengan pedang beracun oleh Abdurrahman bin Muljam. Menjelang wafatnya, Perwira sejati ini masih sempat memberi makan kepada pembunuhnya. Singa Allah, yang dilahirkan di rumah Allah “Ka’bah” dan dibunuh di rumah Allah “Mesjid Kufah”, yang mempunyai hati paling berani, yang selalu berada dalam didikan Rasulullah SAW sejak kecilnya serta selalu berjalan dalam ketaatan pada Allah hingga hari wafatnya, kini telah mengakhiri kehidupan dan pengabdiannya untuk Islam.
Beliau memang telah tiada namun itu tidak berarti seruannya telah berakhir, Allah berfirman: “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup tetapi kamu tidak menyadarinya. ” (Q.S. : 2 : 154)

GHADIR KHUM DAN SAQIFAH

Setelah turunnya [Q.S. Al-Maidah 67], maka kemudian Rasul SAW menyampaikan
khutbahnya, di antara isinya yaitu :
1. Memerintahkan manusia untuk berpegang pada Al-Qur’an dan mentaati Ahlul Bait Rasul (AS) sepeninggal beliau, karena keduanya tak akan pernah berpisah sampai bertemu dengan beliau di Surga (Al-Haudh.
2. Mengumumkan bahwa penerus kepemimpinan beliau adalah Ali dan memerintahkan seluruh manusia untuk mengikuti kepemimpinan Sayidina Ali  sepeninggal beliau.
Kalimat Rasul SAW adalah :
“Siapa yang menjadikan aku pemimpinnya, maka inilah Ali pemimpinnya, Ya Allah tolonglah orang yang menolong Ali, dan Musuhilah orang yang memusuhi Ali”.

Tentang pengangkatan Sayidina Ali  telah banyak diriwayatkan oleh segala kalangan ulama, seperti ahli hadits, ahli tarikh, tafsir, dll.
Berikut referensinya.

A. Ahli Hadits :

1. Al-Hakim, dalam “Mustadrak”
2. Adz-Dzahabi, dalam “Talkhisul Mustadrak”
3. Turmudzi, dalam “Nawadirul Ushul”
4. Muslim, dalam shohihnya
5. Nasa’i, dalam shohihnya
6. Ahmad bin Hambal, dalam musnadnya
7. Muttaqi Al-Hindi, dalam “Kanzul Ummal”
8. Ibnu Majah, dalam Sunan-nya

B. Sanad periwayatan :

110 sahabat, seperti Zaid bin Arqam, Anas bin Malik, Jabir Al-Anshori, Hudhaifah bin Usaid Al-Ghifari, Ibnu Abbas, Abu Said Al-Khudri, Ibnu Mas’ud, Abu Hurairah,…..dst.
[selebihnya pada kitab: “Al-Ghadir” oleh Al-Amini].

C. Pemikir Muslim :

1. Ibn Taimiyyah dalam “Al-Aqidatul Wasithiyyah”
2. Al-Ghazali, dalam “Siyar Al-Alamin”
3. Ibnu Al-Jauzi, dalam “Tazkirah Al-Khawas”
4. Ibnu Katsir, dalam “Al-Bidayah Wan Nihayah”

D. Ahli Tarikh :

1. Al-Ya’qubi, dalam tarikhnya
2. Ibn Abil Hadid, dalam tarikhnya
3. Thabari, dalam “Riyadh An-Nadhirah” dan “Al-Wilayah fi Thuruqi Hadits Al-Ghodir”
4. Ibnu Asakir, dalam tarikhnya
5. Ibnu Atsir, dalam “Usudul Ghobah”
6. Ibnu Abdil Barr, dalam “Al-Isti’ab”
7. Ibnu Abdu Rabbih, dalam “Al-‘Iqd al-Farid”
8. Al-Jahidz, dalam “Utsmaniyyah”
9. Ibn Katsir, dalam Tarikh-nya
10. Ibnu Abi Hatim.
11. Ibn Mardawaih.

E. Ahli Tafsir :

1. Fakhrur-Razi, dalam tafsirnya
2. Abu Ishaq Ats-Tsa’labi, dalam tafsirnya
3. Suyuthi, dalam “Al-Hawi lil Fatawi”

F. Penyair Muslim :

1. Hasan bin Tsabit Al-Anshori
2. Abu Tamam At-Tha’iy
3. Al-Kumait Al-Asdiy

Sumber-Sumber Rujukan lain :
1. Al-Hamid Al-Husaini, dalam “Imamul Muhtadin”, penerbit Yayasan Al-Hamidiy.
2. KH. Abdullah Bin Nuh, dalam “Keutamaan Keluarga Rasulullah SAW”, penerbit Toha Putra.
Saat terjadi peristiwa Ghadir Khum, dimana Ali bin Abi Tholib dinobatkan sebagai Pemimpin kaum muslimin, maka Abubakar dan Umar mengatakan :
“Selamat untukmu wahai putera Abi Thalib. Kini engkau adalah pemimpinku dan pemimpin kaum mukmin dan mukminat”

3. Ahmad, dalam Musnad, jilid 4, hal. 281.
4. Al-Ghazali, dalam “Siyar Al-Alamin”.
5. Ibnu Al-Jauzi, dalam “Tarikh Al-Khawas”.
6. Thabari, dalam “Riyadh An-Nadzirah”.
7. Muttaqi Al-Hindi, dalam “Kanzul Ummal”.
8. Tafsir Ar-Razi.
9. Ibnu Katsir, dalam “Al-Bidayah Wan Nihayah”.
10. Tarikh Ibnu Asakir.
11. Habib Al-Hamid Al-Husaini, dalam “Imamul Muhtadin”.
dll.

Berdasarkan keterangan di atas dan lambaian sebelumnya. Bahwa Rasul SAW (atas perintah Allah SWT) telah mengangkat Sayidina Ali  sebagai penggantinya.
Yang hal ini diketahui oleh Abubakar dan Umar serta semua sahabat. Bahkan mereka memberikan selamat pada Sayidina Ali.

Sehingga kalau kemudian terjadi peristiwa Saqifah, jelas ini bertentangan dengan wasiat dan ketentuan Rasul SAW tersebut. Sehingga tidak ada alasan lain selain alasan politik.

Pertemuan tersebut terjadi saat keluarga Rasul SAW masih sibuk menguruskan jenazah Rasul SAW.

Terbukti pemilihan di saqifah tersebut telah menyebabkan perpecahan di antara sahabat. Antara kubu Sa’ad bin Ubadah dan kubu Abubakar & Umar. Saat terjadi perdebatan dan kekalutan di situ, lalu dengan serta merta Umar mengumumkan bahwa kekhalifahan dipegang oleh Abubakar, dan yang menentangnya akan dibunuh.
Sampai akhirnya Sa’ad bin Ubadah tidak mau sholat bersama Abubakar dan Umar.

Ref.
1. Ibn Qutaibah, dalam “Tarikh Khulafa”.
2. Ibnu Hisyam, dalam “Siroh Nabawiyyah”.
3. Abubakar Al-Jauhari, dalam “Saqifah”.
dll.

Namun kemudian setelah peristiwa Saqifah tersebut, Umar sendiri mengatakan bahwa pemilihan Abubakar di Saqifah oleh beberapa sahabat tersebut adalah “faltah” (kesalahan), dan yang mengulangi cara bai’at tersebut mesti dibunuh, atau paling tidak bai’at-nya tidak sah (tidak diakui). Atau istilah lain, faltah yang terjadi sebagaimana faltah-nya jahiliyah.

Ref.
1. Shohih Bukhori, jilid 4, hal. 127.
2. Tarikh Thabari, jilid 2, hal. 244, bab “Saqifah”.

Itulah akibat pelanggaran dari perintah Allah dan Rasul-Nya, yang akhirnya justru menyebabkan perpecahan umat sampai sekarang.
.
BIJI KURMA

Seorang isteri datang kepda Sayidina Ali dalam keadaan sangat gelisah dan tidak tenang. Di tangannya nampak sebuah pundi kecil. Wajahnya pucat dan memelas.
“Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikum salam warahmatullah wa barakatuh…” jawab Sayidina Ali sambil membukakan pintu.
“Tolong aku wahai Abal Hasan…,” kata wanita itu dengan suara seakan menahan tangis.
“Ada apakah kiranya?”tanya Sayidina Ali r.a.
“Aku dan suamiku saat ini di ambang perceraian.
“Aku masih tidak mengerti, coba ceritakan dengan tenang persoalanmu, insya Allah aku dapat membantu.”
“ Begini. Aku dan suamiku baru saja duduk-duduk sambil menikmati buah kurma. Kami berdua menikmati kurma itu dan memasukkan biji-bijinya ke dalam pundi ini. Setelah habis, suamiku berkata:’Pisahkanlah biji yang aku makan dengan yang engkau makan. Kalau tidak,engkau aku cerai!’ Sekarang aku dan suamiku kebingungan. Dia sebenarnya tak bermaksud menceraikanku, begitu pula aku tak ingin bercerai darinya. Tetapi bagaimana mungkin aku memisahkan biji-biji yang aku makan dengan biji-biji yang dimakannya, sedang keduanya telah tercampur dalam pundi ini…?”
Sayidina Ali terharu melihat keadaan wanita di hadapannya itu. Tetapi tak lama kemudian ia tersenyum, dan berkata: “Tenanglah wahai hamba Allah… Apa susahnya memisahkan biji-biji itu?”
“ Ia telah tercampur aduk dalam pundi ini,” kata wanita itu serius.
“Tak mengapa. Sungguh sangat mudah melakukannya,” kata Sayidina Ali tenang seakan tidak terjadi sesuatu.
“Tetapi bagaimana caranya?”
“Pisahkanlah biji-biji itu secara berjajar, yang satu dengan yang lain mempunyai jarak sehingga yang satu benar-benar terpisah dari yang lain.”
“Aku belum lagi mengerti. Saat ini aku tidak tahu mana biji buah kurma yang aku makan.”
“Tak perlu engkau tahu. Yang penting, pisahkanlah dengan jarak, seperti yang aku katakan tadi. Bukankah suamimu hanya menyuruh engkau memisahkannya, dan bukan membedakan biji dari kurma yang engkau makan? Apa susahnya?”
Mengertilah wanita itu. Ia pun menjadi lega dan bersyukur memuji Allah.”Alhamdulillah…segala puji bagi Allah, dan shalawat atas Nabi-Nya. Sungguh, tidak salah apabila Rasulullah SAW. Menggelari anda sebagai: ”Pintunya ilmu,” katanya, kali ini dengan tersenyum.

AHLI MATEMATIKA 1

Dua orang sehabat melakukan perjalanan bersama. Disuatu tempat, mereka berhenti untuk makan siang. Sambil duduk, mulailah masing-masing membuka bekalnya. Orang yang pertama membawa tiga potong roti, sedang orang yang kedua membawa lima potong roti.
Ketika keduanya telah siap untuk makan, tiba-tiba datang seorang musafir yang baru datang ini pun duduk bersama mereka.
“Mari, silakan, kita sedang bersiap-siap untuk makan siang,”kata salah seorang dari dua orang tadi.
“Aduh…saya tidak membawa bekal,” jawab musafir itu.
Maka mulailah mereka bertiga menyantap roti bersama-sama. Selesai makan, musafir tadi meletakkan wang delapan dirham di hadapan dua orang tersebut seraya berkata: “Biarkan wang ini sebagai pengganti roti yang aku makan tadi.” Belum lagi mendapat jawaban dari pemilik roti itu, si musafir telah minta diri untuk melanjutkan perjalanannya lebih dahulu.
Sepeninggal si musafir, dua orang sahabat itu pun mulai akan membagi wang yang diberikan.
“Baiklah, wang ini kita bagi saja,” kata si empunya lima roti.
“Aku setuju,”jawab sahabatnya.
“Karena aku membawa lima roti, maka aku mendapat lima dirham, sedang bagianmu adalah tiga dirham.
“Ah, mana boleh begitu. Karena dia tidak meninggalkan pesan apa-apa, maka kita bagi sama, masing-masing empat dirham.”
“Itu tidak adil. Aku membawa roti lebih banyak, maka aku mendapat bagian lebih banyak”
“Janganlah begitu…”
Alhasil, kedua orang itu saling berbantah. Mereka tidak berhasil mencapai kesepakatan tentang pembagian tersebut. Maka, mereka bermaksud menghadap Sayidina Ali bin Abi Thalib r.a. untuk meminta pendapat.
Di hadapan Sayidina Ali, keduanya bercerita tentang masalah yang mereka hadapi. Sayidina Ali mendengarkannya dengan seksama. Setelah orang itu selesai berbicara, Sayidina Ali kemudian berkata kepada orang yang mempunyai tiga roti: “Terima sajalah pemberian sahabatmu yang tiga dirham itu!”
“Tidak! Aku tak mau menerimanya. Aku ingin mendapat penyelesaian yang seadil-adilnya, “Jawab orang itu.
“Kalau engkau bermaksud membaginya secara benar, maka bagianmu hanya satu dirham!” kata Sayidina Ali lagi.
“Hah…? Bagaimana engkau ini, kiranya.
Sahabatku ini akan memberikan tiga dirham dan aku menolaknya. Tetapi kini engkau berkata bahwa hak-ku hanya satu dirham?”
“Bukankah engkau menginginkan penyelesaian yang adil dan benar?”
“Ya”
“Kalau begitu, bagianmu adalah satu dirham!”
“Bagaimana boleh jadi begitu?” Orang itu bertanya.
Sayidina Ali membetulkan duduknya. Sejenak kemudian ia berkata:”Mari kita lihat. Engkau membawa tiga potong roti dan sahabatmu ini membawa lima potong roti.”
“Benar.”jawab keduanya.
“Kalian makan roti bertiga, dengan si musafir.”
‘Benar”
“Adakah kamu tahu, siapa yang makan lebih banyak?”
“Tidak.”
“Kalau begitu, kita anggap bahwa setiap orang makan dalam jumlah yang sama banyak.”
“Setuju, “jawab keduanya serempak.
“Roti kamu berdua yang delapan potong itu, masing-masingnya kita bagi menjadi tiga bagian. Dengan demikian, kita mempunyai dua puluh empat potong roti, bukan?” tanya Sayidina Ali.
“Benar,”jawab keduanya.
“Masing-masing dari kamu makan sama banyak, sehingga setiap orang berarti telah makan sebanyak delapan potong, karena kamu bertiga.”
“Benar.”
“Nah…orang yang membawa lima roti, telah dipotong menjadi tiga bagian mempunyai lima belas potong roti, sedang yang membawa tiga roti berarti mempunyai sembilan potong setelah dibagi menjadi tiga bagian, bukankah begitu?”
“Benar, jawab keduanya,  dengan serentak.
“si empunya lima belas potong roti makan untuk dirinya delapan roti, sehingga ia mempunyai sisa tujuh potong lagi dan itu dimakan oleh musafir yang belakangan. Sedang si empunya sembilan potong roti, maka delapan potong untuk dirinya, sedang yang satu potong di makan oleh musafir tersebut. Dengan  begitu, si musafir pun tepat makan delapan potong roti sebagaimana kamu berdua, bukan?”
Kedua orang yang dari tadi menyimak keterangan Sayidina Ali, tampak sedang mencerna ucapan Sayidina Ali tersebut. Sejenak kemudian mereka berkata:”Benar, kami mengerti.”
“Nah, wang yang diberikan oleh di musafir adalah delapan dirham, berarti tujuh dirham untuk si empunya lima roti sebab si musafir makan tujuh potong roti miliknya, dan satu dirham untuk si empunya tiga roti, sebab si musafir hanya makan satu potong roti dari milik orang itu”
“Alhamdulillah…Allahu Akbar,” kedua orang itu berucap hampir bersamaan. Mereka sangat mengagumi cara Sayidina Ali menyelesaikan masalah tersebut, sekaligus mengagumi dan mengakui keluasan ilmunya.
“Demi Allah, kini aku puas dan rela. Aku tidak akan mengambil lebih dari hak-ku, yakni satu dirham,” kata orang yang mengadukan hal tersebut, yakni si empunya tiga roti.
Kedua orang yang mengadu itu pun sama-sama merasa puas. Mereka berbahagia, karena mereka berhasil mendapatkan pemecahan secara benar, dan mendapat tambahan ilmu yang sangat berharga dari Sayidina Ali bin Abi Thalib.

AHLI MATEMATIKA 2

Pada masa pemerintahan Umar bin Khathab,. terjadilah suatu peristiwa yang menyangkut diri seorang wanita. Wanita itu didapati melahirkan anak, padahal, menurut pengakuannya, ia baru hamil 6 bulan.
Mendengar, penutuan itu, Umar tidak percaya begitu saja. Umar berpendapat bahwa wanita tersebut pasti telah berbohong.
“Mana mungkin orang yang baru menikah melahirkan anak dari kandungan yang berumur 6 bulan?” begitu ia berfikir, barangkali Karenanya, Umar berpendapat bahwa wanita tersebut pastilah telah hamil terlebih dahulu sebelum menikah, alias telah berzina. Atas dasar pertimbangan itu, Khalifah memutuskan untuk menghukum rajam wanita tersebut.
Sebelum hukuman dilaksanakan, Sayidina Ali yang secara kebetulan sedang lalu, menghentikan langkahnya karena melihat orang-orang sedang berkerumun, termasuk didalamnya adalah Umar. Kepada Sayidina Ali diceritakanlah kesah yang terjadi.
Mendengar penuturan Umar, Sayidina Ali kemudian berkata: “Astaga…apakah engkau akan menentang firman Allah yang berkata:”Ibunya mengandung dan menyusui selama tiga puluh bulan.’ Pada ayat lain Allah berfirman: ‘Dan hendaklah para ibu itu menyusui anaknya dua tahun lamanya, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusunan.”
Kalau mengandung dan menyusui adalah tiga puluh bulan, sedang menyusui saja adalah dua tahun, alias dua puluh empat bulan, maka orang yang melahirkan anak dengan usia kandungan enam bulan adalah mungkin terjadi berdasarkan firman Allah  tersebut, yakni tiga puluh dikurangi dua puluh empat bulan. Sungguh tepat sekali usia kandungan wanita itu!”
Semua yang hadir tertegun mendengar penuturan Sayidina Ali tersebut. Mereka merasa lega karena belum sempat menjatuhkan hukuman secara salah. Umar sendiri menjadi orang yang paling lega karena terhindar dari kesalahan yang besar. Dan wanita itu pun dibebaskan.

KESALEHAN SOSIAL

Dengan susah payah, seorang pengemis datang memasuki Masjid Nabawi di Madinah. Sayang, ia hanya melihat orang-orang melaksanakan shalat dengan khusyuk. Didorong rasa lapar yang kuat, akhirnya ia meminta-minta kepada orang-orang yang sedang shalat. Hasilnya gagal.
Hampir putus asa, ia mencoba menghampiri seseorang yang khusyuk melakukan rukuk. Kepadanya ia minta belas kasihan. Ternyata kali ini ia berhasil. Orang itu memberikan cincin besinya kepada pengemis itu.
Tidak lama setelah itu, Rasulullah SAW memasuki masjid. Nabi melihat pengemis itu lalu mendekatinya.
”Adakah orang yang telah memberimu sedekah?”
”Ya, alhamdulillah.”
”Siapa dia?”
”Orang yang sedang berdiri itu,” kata si pengemis sambil menunjuk dengan jari tangannya.
”Dalam keadaan apa ia memberimu sedekah?”
”Sedang rukuk!”
”Ia adalah Ali bin Abi Thalib,” kata nabi. Ia lalu mengumandangkan takbir dan membacakan ayat, ”Dan barang siapa yang mengambil Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama Allah) itulah yang pasti menang.” (Al-Maidah: 56)
Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa kisah tersebut di atas adalah faktor yang menjadi sebab turunnya ayat sebelumnya, yaitu ”Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).” (Al-Maidah: 55). Asbabun-nuzul ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, Mujahid, dan Shofyan Ats-Tsauri.
Dalam kisah tersebut kita dapat melihat bagaimana nabi memberikan penghargaan tinggi kepada Ali bin Abi Thalib karena tindakannya yang terpuji. Bahkan Allah SWT menjadikan tindakannya itu sebagai sebab turunnya suatu ayat. Ali telah membuktikan bahwa kesalehan dirinya bukan hanya pada taraf untuk dirinya dan kepada Tuhan, atau sebatas kesalehan ritual, tetapi ia wujudkan kesalehan lain, yaitu kesalehan sosial.
Kesalehan yang diwujudkan Ali boleh dijadikan teladan bahwa semestinya kesalehan ritual dapat mengantarkan seseorang pada kesalehan sosial. Ini karena memang kesalehan ritual sangat mendukung untuk itu. Karena itu, semestinya kita tidak boleh shalat dengan khusyuk ketika tetangga kita dan kawan-kawan kita masih memerlukan huluran tangan. Juga sangat aneh jika sebuah masjid penuh sesak dihadiri para tamu-Nya, dan yang shalat di dalamnya tidak sedikit yang peduli, sementara di samping masjid itu kawasan kumuh masih merajalela, para pengemis di persekitaran masjid masih berkeliaran.

MENJELANG BERBUKA PUASA


Rumah Rasulullah SAW tidak istimewa. Perabot rumah tangganya sangatlah sederhana. Pakaian beliau hanya beberapa potong;semuanya bukan terbuat dari bahan yang istimewa. Akan tetapi rumah tangga Rasulullah SAW. menjadi contoh sebuah rumah tangga yang sejahtera.
Adalah rumah Rasulullah di belakang masjid. Di sebelah rumah beliau terdapat rumah putri kesayangannya, Fatimah Az-Zahra, yang hidup bersama suaminya, Ali bin Abi Thalib, dan ketiga putra mereka, Hasan,. Husain, dan Zainab. Setiap kali membuka jendela rumahnya, nampaklah oleh beliau rumah Fatimah. Dan setiap pagi, ketika akan bershalat Subuh, Rasulullah SAW. senantiasa membuka jendela rumahnya dan berseru memanggil penghuni rumah di sebelahnya itu. Hal itu dilakukannya setiap hari, beliaunpun selalu mengunjungi keluarga Ali bin Abi Thalib, kemudian bergurau dengan cucu-cucunya yang masih kecil.
Rumah tangga Fatimah Az-Zahra nampak sangat bahagia. Rumah tangga keluarga ini layaknya seperti rumah tangga Rasulullah SAW, senantiasa memberikan nasehat-nasehat dan bimbingan kepada keluarga puterinya itu.
Bimbingan Rasulullah SAW. Itu terlihat, misalnya, ketika Fatimah, puteri kesayangannya, datang menghadap beliau untuk minta seorang pembantu. Sayidina Ali seniri tak sampai hati melihat istrinya selalu bekerja sendirian menumbuk gandum, sehinggga tangan puteri Rasulullah itu menebal dan menjadi kasar. Tapi apa hendak dikata, sebab ia tak punya cukup wang untuk membeli seorang budak. Akhirnya mereka pun menghadap Rasulullah untuk menyampaikan hal itu.
Akan tetapi, apa jawab Nabi? Beliau berkata: “Tidak wahai puteriku. Maukah aku berikan kepadamu sesuatu yang lebih berharga, yang diajarkan Jibril kepadaku?”
Fatimah pun mengangguk. Kemudian Rasulullah pun menyuruhnya membaca Allahu Akbar sebanyak 34x, alhamdulillah sebanyak 33x, dan subhanallah sebanyak 33x, setiap selesai menjalankan shalat lima waktu.
Begitu pula cara Rasulullah mendidik anggota keluarganya yang lain, Sayidina Ali, sepupu dan menantunya, menjadi orang yang terkenal ilmu, akhlak, dan keberaniannya, juga berkat didikan langsung dari Nabi sendiri, Demikian juga Hasan, Husein, dan Zainab.
Oleh sebab itu, keluarga tersebut menjadi keluarga yang sejahtera, karena setiap anggota keluarga itu merupakn peribadi-peribadi yang istimewa. Bukanlah karena mereka adalah keturunan Rasulullah maka mereka menjadi istimewa dengan sendirinya, melainkan keturunan itu hanya merupakan kesempatan bagi mereka sehingga mereka dapat merasakan pendidikan dan perhatian yang lebih khusus dari Rasulullah SAW.
Masyarakat benar-benar maklum akan keutamaan keluarga yang satu ini. Mereka berfikir, bahwa rumah tangga yang lebih baik daripada rumah tangga Ali dan Fatimah hanyalah rumah tangga Rasulullah SAW, saja.
Tentang keutamaan keluarga ini, pernah diriwayatkan bahwa pada suatu hari, di bulan suci Ramadhan, Sayidina Ali, Fatimah, Hasan, dan Husein sedang bersiap-siap untuk berbuka puasa. Tak ada hidangan yang tersedia di hadapan mereka kecuali masing-masing memegang sepotong roti kering. Ketika roti itu akan dimakan, terdengar suara pintu rumah mereka diketuk orang. Maka dibukakanlah pintu itu terlebih dahulu. Yang datang adalah seorang miskin, yang meminta sesuatu untuk berbuka puasa, sebab ia tak mempunyai makanan sedikit pun.
Ia berkata: “Wahai penghuni rumah kecintaan Rasulullah! Aku adalah seorang miskin yang tak punya apa-apa, bahkan untuk berbuka puasa pada hari ini. Tolonglah aku, wahai peribadi-peribadi mulia. Berbagilah denganku atas rezeki yang diberikan Allah kepada kalian. Semoga Allah memuliakan kalian karenanya.”
Sayidina Ali diam sejenak. Ia memandang anggota keluarganya yang lain. Seisi rumah berpandang-pandangan. Namun, tak lama, segera ia mengambil roti bagiannya sendiri, dan bergegas hendak menyerahkannya kepada si miskin. Tapi langkahnya terhenti. Ia sangat terharu, karena seisi rumah ternyata melakukan hal yang sama. Mereka menyerahkan bagiannya masing-masing, dan akhirnya mereka hanya berbuka dengan meminum segelas air putih.
Hari berikutnya, kejadian serupa terulang kembali. Kali ini yang datang adalah seorang Muslim yang baru saja dibebaskan oleh kaum kafir setelah ia ditawan beberapa lama.
“Assalamu’alaikum ya Ahlul Baitin-nubuwwah!” ( Semoga keselamatan dilimpahkan atas kalian, wahai keluarga rumah tangga Nabi ) terdengar suara orang diluar.
“Wa’alaikum salam warahmatullah,”jawab penghuni rumah itu serentak, kemudian Sayidina Ali bangkit membukakan pintu untuk tamunya.
“Sungguh, aku tak tahu lagi harus pergi kemana selain ke rumah ini. Aku adalah seorang Muslim yang baru saja dibebaskan oleh musuh. Aku menginginkan kebaikan kalian, karena perutku terasa lapar, dan tubuhku sangatlah lemah kerenanya.”
Sayidina Ali segera menuju ke mejanya, dan mengambil sepotong roti untuk orang tersebut. Yang lain nampak akan mengikuti seperti halnya kemarin.
“Tak usahlah! Makan saja bagian kalian!” kata Sayidina Ali menasihatkan.
“Tidak! Demi Allah, aku tak dapat merasa kenyang sementara aku mengetahui bahwa di luar ada seorang Muslim yang kelaparan,” kata Fatimah, istrinya.
“Baiklah,” kata Sayidina Ali menyerah. Namun, jiwanya pun tersentuh kerana anak-anaknya yang masih kecil ikut menyerahkan bagian mereka.
“Alhamdulillah. Sungguh kamu semua adalah orang-orang yang mulia. Semoga Allah memberi kamu balasan yang berlipat ganda…,” kata orang itu bersyukur sambil memegang roti pemberian Sayidina Ali sekeluarga.
Dan pada hari kedua itu pun, mereka hanya berbuka dengan meminum segelas air putih. Sampailah hari yang ketiga. Ketika keluarga ini tengah bersiap-siap menunggu adzan maghrib, mereka dikejutkan oleh ketukan pintu. Ketukan itu sebenarnya sangatlah perlahan. Sayidina Ali, selaku kepala keluarga, berjalan membukakan pintu.Ia terkejut, karena tamunya yang lain adalah seorang dewasa.
“Assalamu’alaikum,” kata anak itu perlahan.
“Wa’alaikum salam warahmatullah,” jawab Sayidina Ali sambil berjenggok dan merangkul si kecil, seakan puteranya sendiri. “Ada apa gerangan wahai anak ku?” tanya Sayidina Ali lembut.
“Aku adalah seorang yatim. Ayahku telah lama meninggal dunia. Ibuku bekerja sendirian. Sedang aku, sudah beberapa hari ini perutku kosong, tak kemasukan makanan apa-apa!” katanya pelahan dengan wajah tertunduk.
Sayidina Ali terharu. Matanya berkaca-kaca. Ia memang sangat mencintai anak-anak, terlebih anak yatim. Bahkan, diseluruh kota, Sayidina Ali dikenal sebagai ”Bapaknya anak-anak yatim” dikota itu. Sebaliknya, setiap anak yatim menganggap Sayidina Ali sebagai ayah mereka. Tanpa pikir panjang, ia bergegas mengambil sepotong roti yang menjadi bagiannya. Tapi, lagi-lagi ia kebingungan, karena seisi rumah serentak mengikuti langkahnya. Ia menoleh ke belakang, dan dengan perasaan terharu yang semakin dalam ia berkata: “Sudahlah. Biar aku saja yang memberikan bagianku. Kamu… makanlah bagian kamu!”
“Sungguh, bagaimana mungkin seorang ibu akan merasa kenyang, sementara ia tahu putranya mengigil karena menahan lapar?” kata Fatimah sambil juga menahan air mata.
“Baiklah. Tetapi engkau, anak-anakku, makan sajalah bagian kamu, biar ayah dan ibu yang mengurus keperluan anak itu,”  kata Sayidina Ali lagi. Ia terpaksa berbuat begitu, sebab terbayang jelas olehnya, bahwa putra-putrinya telah dua hari ini tak makan sesuatu selain hanya minum segelas air. Tapi dengan serta-merta lamunannya dikejutkan oleh suara puteranya yang bernama Hasan. Anak tersebut dengan suara lemah yang dipaksakan berkata:”Tidak wahai Ayah. Bagaimana mungkin aku akan makan bagianku, sementara aku tahu bahwa seorang anak yang lebih kecil usianya daripadaku harus berjuang menahan lapar?”
Sayidina Ali dan Fatimah menjadi semakin terharu.
“Baiklah. Tetapi kamu, Husein dan Zainab, makanlah bagian kamu!” kata Sayidina Ali sambil dipaksakan bibirnya untuk tersenyum.
“Tidak wahai ayah. Bagaimana aku akan makan dengan tenang, sementara aku tahu, bahwa di luar rumah ini seorang sahabatku harus menanggung lapar?” kata Husein tak kalah tangkas dari abangnya.

NILAI NILAI YANG DIPANCARKAN DARI KEHARUMAN PRIBADI SAYIDINA ALI BIN ABU THALIB A.S


Dalam rangka usaha meluruskan pengertian kaum muslimin mengenai ajaran agama Islam yang berkaitan dengan kewajiban berusaha mencari nafkah penghidupan, Sayidina  Ali selalu memberi pengertian kepada kaum muslimin mengenai beberapa pokok ajaran Islam, antara lain:
1.         Nilai seseorang tergantung pada kadar kemauannya.
2.         Bukankah kemiskinan itu termasuk cobaan hidup? Ketahuilah, bahwa kemiskinan yang terberat itu adalah penyakit jasmani. Dan penyakit jasmani yang terparah adalah penyakit hati. Kesehatan badan lebih berharga daripada kecukupan harta, dan hati yang bertaqwa lebih berharga daripada badan yang sehat.
3.         Barangsiapa yang enggan bekerja ia akan menghadapi cobaan hidup, dan Allah tidak memerlukan orang yang tidak mengindahkan nikmat yang dikaruniakan dalam harta dan jiwanya…”
4.         Sepuluh macam sifat yang menunjukkan akhlak mulia:
a.         penyantun
b.         pemalu
c.          jujur
d.         menunaikan amanat
e.         rendah hati
f.           waspada
g.         pemberani
h.         tabah
i.           sabar
j.           tahu bersyukur
Orang yang bahagia adalah yang dapat menarik pelajaran dari orang lain, orang yang sengsara ialah orang yang tertipu oleh hawa nafsunya.
5.         Hai para hamba Allah, janganlah sekali-kali kamu huruhara oleh kebodohan kamu, dan jangan pula kamu menuruti hawa nafsu kamu. Orang yang tunduk kepada dua hal itu ia berada di tepi jurang yang licin.
6.         Ilmu pengetahuan wajib diikuti dengan amal perbuatan. Barangsiapa berilmu ia harus beramal. Dengan amal ilmu akan meningkat tinggi dan tanpa amal, ilmu akan merosot…”
7.         Amal perbuatan adalah buah ilmu pengetahuan. Orang berilmu yang berbuat tidak sesuai dengan ilmunya, sama dengan orang bodoh yang kebingungan dan tetap bodoh. Bahkan orang seperti itu kesalahannya lebih besar, lebih pantas disesali dan di hadirat Allah ia akan menjadi orang yang paling menyesal. Orang yang bekerja tanpa ilmu sama dengan orang yang bepergian tanpa kenal jalan, sehingga orang lain yang melihatnya akan bertanya-tanya: “berpergiankah atau pulang?”
8.         Barangsiapa dikaruniai kekayaan oelh Allah hendaklah ia memperhatikan kaum kerabatnya, menghormati dan menjamu tamu sebaik-baiknya, membebaskan tawanan perang dan melepaskan orang dari penderitaan, membantu kaum fakir miskin dan orang yang tenggelam di dalam hutang demi kebajikan, dan hendaknya ia bersabar tidak menuntut hak karena ingin mendapatkan pahala semata-mata. Sifat-sifat demikian itu merupakan keberuntungan yang akan menghantarkan orang ke arah kemuliaan di dunia dan insya Allah merupakan pembuka jalan baginya untuk memperoleh kebahagiaan di akhirat.
9.         Bekerjalah dengan sekuat tenagamu, janganlah engkau menjadi penumpang hasil kerja orang lain.
10.      Janganlah engkau malu kalau hanya dapat memberi sedikit, karena dapat memberi sedikit lebih baik daripada tidak dapat memberi. Jadilah engkau seorang yang penyantun, tetapi jangan menjadi seorang yang pemboros. Jadilah engkau seorang yang hemat, tapi jangan menjadi seorang yang kikir.
11.      Janganlah engkau menjadi orang yang tidak memberi peringatan, karena orang yang berakal cukup diperingatkan dengan tutur-kata yang baik, sedangkan haiwan tak dapat diperingatkan kecuali dengan pukulan.
12.      Hati manusia dapat merasa jemu dan lesu sebagaimana badan juga merasa jemu dan lesu. Karena itu carilah ilmu dan hikmah sebagai obatnya.
13.      Siapa yang tidak mengenal harga dirinya, tak berguna baginya kemuliaan asal keturunannya.
14.      Semua nikmat yang nilainya di bawah surga adalah rendah dan semua musibah yang kadarnya dibawah neraka adalah keselamatan.
15.      Orang yang mengadakan bid’ah pasti meninggalkan sunnah, karena itu hati-hatilah terhadap bid’ah. Sunnah adalah cahaya yang mempunyai tanda-tandanya sendiri dan bid’ah pun mempunyai tanda-tandanya sendiri. Orang yang paling celaka di hadirat Allah ialah pemimpin yang dzalim, ia sesat dan menyesatkan.
16.      Orang yang benar-benar ahli fiqh adalah yang tidak membuat orang lain berputus asa mengharapkan rahmat dan kasih sayang Allah dan menyelamatkan mereka dari murka-Nya.
Sayidina  Ali berpendapat, orang yang hidup dicengkeram kemelaratan tentu kehilangan ketenangan dan ketentramannya. Sukar baginya untuk menghayati kejujuran, perilaku yang baik dan menghias dirinya dengan sifat-sifat utama. Sukar pula beginya untuk membuan rasa iri hati dan dengki dari lubuk hati. Maka itu ia mudah terperosok ke dalam penyelewengan yang tidak baik.
Benar bahwa sayidina Ali hidup zuhud dan menganjurkan kezuhudan, demikian juga dengan beberapa sahabat Nabi semisal Abu Dzar Al-Ghifari. Akan tetapi mereka tak pernah menganjurkan untuk lebih suka hidup melarat daripada berkecukupan. Sayidina Ali tidak jemu-jemunya mengingatkan kepada kaum muslimin, “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selama-lamanya, dan bekerjalah untuk akhirat seakan-akan engkau mati esok hari.”
Menurut Sayidina Ali upaya memperoleh rizki dengan jalan yang benar dan lurus tidak akan mendatangkan hasil lebih besar daripada yang diperlukan untuk mengatasi keperluan. Dengan tegas dan jelas Sayidina ‘Ali berkata: “Jika kamu menempuh jalan kebenaran, tentu akan terbuka jalan yang menyenangkan kamu dan tidak akan ada orang lain yang menggantungkan penghidupannya kepada orang lain.”
Berdasarkan pengamatan yang tajam dan cermat Sayidina Ali as yakin bahwa kemelaratan dapat menjerumuskan manusia ke dalam kekufuran. Karena itulah ia memerangi segenap kekuatan yang ada, serta dengan tegas dan tangkas mencemohkan orang-orang yang menganjurkan atau membagus-baguskan kemelaratan dengan dalih kezuhudan. Memang kalau hidup zuhud akan menambah iman dan taqwa kepada Allah Ta’ala, akan tetapi kalau kemelaratan akan membawa ke dalam kekufuran. Dimana nanti kita akan ‘menyembah’ selain-Nya. Itu boleh jadi harta dan juga kekuasaan. Maka itu seumpama bapa saudaranya kemelaratan itu berupa manusia, seharusnya kita membunuhnya. Ini hanya secebis dari sekian banyak hikmah yang boleh kita temukan dalam diri Sayidina ‘Ali, karena Sayidina ‘Ali as adalah mahasiswa utama yang menimba ilmu dari mahaguru umat sedunia, Muhammad saw. Yang mana,
Rasulullah saw bersabda: “Hai’Ali, Allah telah menghias dirimu dengan hiasan yang paling disukai-Nya, Allah mengaruniaimu perasaan mencintai kaum lemah hingga Allah membuatmu puas (ridho) mempunyai pengikut mereka dan mereka pun puas engkau menjadi pemimpin mereka.”

SAYIDINA HASAN AL-MUJTABA AS

Nama : Hasan
Gelar : al-Mujtaba
Julukan : Abu Muhammad
Ayah : Ali bin Abi Thalib
Ibu : Fatimah az-Zahra
Tempat/Tgl Lahir : Madinah, Selasa 15 Ramadhan 2 H.
Hari/Tgl Wafat : Kamis, 7 Safar Tahun 49 H.
Umur : 47 Tahun
Sebab Kematian : Diracun Istrinya, Ja’dah binti As-Ath
Makam : Baqi’ Madinah
Jumlah Anak : 15 orang; 8 laki-laki dan 7 perempuan
Anak Laki-laki : Zaid, Hasan, Umar, Qosim, Abdullah, Abdurrahman, Husein, Thalhah
Anak Perempuan : Ummu al-Hasan, Ummu al-Husein, Fatimah, Ummu Abdullah, Fatimah, Ummu Salamah, Ruqoiyah

Riwayat Hidup

“..Maka katakanlah (hai Muhammad): mari kita panggil anak-anak kami dan anak-anak kalian.. .”(Surah Al-lmran 61)

“Sesungguhnya Allah SWT menjadikan keturunan bagi setiap nabi dan dari tulang sulbinya masing-masing, tetapi Allah menjadikan keturunanku dan tulang sulbi Ali bin Abi Thalib”. (Kitab Ahlul Bait hal. 273-274)

“Semua anak Adam bernasab kepada orang tua lelaki (ayah mereka), kecuali anak-anak Fatimah. Akulah ayah mereka dan akulah yang menurunkan mereka.”(Tafsir Al Manar, dalam menafsirkan Surah al-An’am ayat 84)

Satu ayat di atas serta dua hadis di bawahnya menunjukkan bahwa Hasan dan Husein adalah kecintaan Rasul yang nasabnya disambungkan pada dirinya. Hadis yang berbunyi: “Tapi Allah menjadikan keturunanku dari tulang sulbi Ali Bin Abi Thalib”, menunjukkan bahwa Rasulullah yang tidak berbicara karena kemauan hawa nafsu kecuali wahyu semata-mata, ingin mengatakan bahwa Hasan dan Husein adalah anaknya beliau SAW. Begitu juga hadis kedua, beliau mengungkapkan bahwa anak Fatimah bernasab kepada dirinya SAW. Pernyataan tersebut dipertegas oleh ayat yang di atas, dimana Allah sendiri menyebut mereka dengan istitah ‘anak-anaknya’ yakni putra-putra Muhammad Rasululullah
SAW.
Nabi juga sering bersabda: “Hasan dan Husein adalah anak-anakku”. Atas dasar ucapan nabi inilah, Ali bin Abi Thalib berkata kepada anak-anaknya yang lain: “Kalian adalah anak-anakku sedangkan Hasan dan Husein adalah anak-anak Nabi”. Karena itulah ketika Rasulullah SAW masib hidup mereka berdua memanggil nabi SAW “ayah”. Sedang kepada Sayidina Ali a.s. Husein memanggilnya Abu Al Hasan, sedang Hasan memanggil sebagai Abu al-Husein. Ketika Rasulullah SAW berpulang kerahmat Allah, barulah mereka berdua memanggil hadrat Ali dengan “ayah”.
Beginilah kedekatan nasab mereka berdua kepada Rasululullah SAW. Sejak hari lahirnya hingga berumur tujuh tahun Hasan mendapat kasih sayang serta naungan dan didikan langsung dari Rasululullah SAW, sehingga beliau dikenal sebagai seorang yang ramah, cerdas, murah hati, pemberani, serta berpengetahuan luas tentang seluruh kandungan setiap wahyu yang diturunkan saat nabi akan menyingkapnya kepada para sahabatnya.
Dalam kesalehannya, beliau dikenal sebagai orang yang saleh, bersujud dan sangat khusyuk dalam shalatnya. Ketika berwudhu beliau gemetar dan di saat shalat pipinya basah oleh air mata sedang wajahnya pucat karena takut kepada Allah SWT. Dalam belas dan kasih sayangnya, beliau dikenal sebagai orang yang tidak segan dengan pengemis dan siapa saja yang bertanya tentang masalah agama kepadanya.
Dari sifat-sifat yang mulia inilah beliau tumbuh menjadi seorang dewasa yang tampan, bijaksana dan berwibawa. Setelah kepergian Rasulullah SAW beliau langsung berada di bawah naungan dan didikan ayahnya Ali bin Abi Thalib a.s. Hampir tiga puluh tahun, beliau bernaung di bawah didikan ayahnya, hingga akhirnya pada tahun 40 Hijriyah. Ketika ayahnya terbunuh dengan pedang beracun yang dipukulkan Abdurrahman bin Muljam, Hasan mulai menjabat keimamahan yang ditunjuk oleh Allah SWT.
Selama masa kepemimpinannya, beliau dihadapkan kepada orang yang sangat memusuhinya dan memusuhi ayahnya, Muawiyah bin Abi Sofyan dari bani Umayyah. Muawiyah bin Abi Sofyan yang sangat gilakan kepada kekuasaan selalu menentang dan menyerang Sayidina Hasan a.s. dengan kekuatan pasukannya. Sementara dengan kelicikannya dia menjanjikan hadiah-hadiah yang menarik bagi jenderal dan pengikut Sayidina Hasan yang mau menjadi pengikutnya.

Karena banyaknya pengkhianatan yang dilakukan pengikut Sayidina Hasan a.s. yang merupakan akibat pujukan Muawiyah, akhirnya Sayidina Hasan menerima tawaran darinya. Perdamaian bersyarat itu dimaksudkan agar tidak terjadi pertumpahan darah yang lebih banyak di kalangan kaum muslimin. Namun, Muawiyah mengingkari seluruh isi perjanjian itu. Kejahatannya pun semakin merajalela, khususnya kepada keluarga Rasulullah SAW dan orang yang mencintai mereka akan selalu ditekan dengan kekerasan dan diperlakukan dengan tidak senonoh.
Dan pada tahun 50 Hijriah, beliau dikhianati oleh isterinya, Ja’dah putri Ash’ad, yang menaruh racun diminuman Sayidina Hasan. Menurut sejarah, Muawiyah adalah dalang dari usaha pembunuhan anak kesayangan Rasulullah SAW ini.
Akhirnya manusia agung, pribadi mulia yang sangat dicintai oleh Rasulullah kini telah pulang ke rahmatullah. Pemakamannya dihadiri oleh Sayidina Husein a.s. dan para anggota keluarga Bani Hasyim. Karena adanya beberapa pihak yang tidak setuju jika Sayidina Hasan dikuburkan didekat maqam Rasulullah dan ketidaksetujuannya itu dibuktikan dengan adanya hujan panah ke keranda jenazah Sayidina Hasan a.s. Akhirnya untuk kesekian kalinya keluarga Rasulullah yang teraniaya terpaksa harus bersabar. Mereka kemudian mengalihkan pemakaman Sayidina Hasan a.s. ke Jannatul Baqi’ di Madinah. Pada tanggal 8 Syawal 1344 H (21 April 1926) kemudian, pekuburan Baqi’ diratakan dengan tanah oleh pemerintah yang berkuasa di Hijaz.
Sayidina Hasan telah tiada, pemakamannya pun dirata namun perjuangan serta pengorbanannya yang diberikan kepada Islam akan tetap terkenang di hati sanubari setiap insan yang mengaku dirinya sebagai pengikut dan pencinta Muhammad SAW serta Ahlul Baitnya.

LAKI-LAKI SERUPA NABI

Setelah perkawinan Ali bin Abi Thalib as dengan Fatimah zahra as, Fatimah as, puteri Rasulullah SAW, melahirkan anak laki-laki yang mungil, lucu, dan sehat. Putera yang lahir pada pertengahan bulan Ramadhan tahun ketiga Hijrah itu disambut oleh Rasulullah dengan penuh kecintaan. Rasulullah mengangkatnya, menggendong, merangkul, mendekapkan ke dadanya, kemudian membisikkan adzan di telinga sebelah kanan cucunya itu dan iqamat di telinga sebelah kirinya. Setelah itu, Rasulullah berpaling kepada Ali, menantunya, seraya berkata: “Akan engkau beri nama siapa anak ini?”
“Demi Allah, aku tak akan mendahului Anda ya Rasulullah,”jawab Ali.
“Aku sendiri tak akan mendahului Tuhanku,”kata Nabi lagi.
Di dalam sebagian riwayat diceritakan, bahwa tak lama sesudah dialog tersebut, Jibril kemudian datang menyampaikan pesan tentang nama anak itu, yaitu: Hasan.
Rasulullah SAW sangat mencintai cucunya ini. Di antara sabda beliau sehubungan dengan Al Hasan as adalah:
*”Barangsiapa ingin melihat pemuda ahli surga, maka hendaknya ia melihat    Hasan bin Ali.”
*”Hasan adalah dari aku dan aku dari Hasan, Allah mencintai orang yang mencintainya.”
Di dalam hadis yang lain disebutkan, bahwa suatu ketika orang melihat Rasulullah saw. memanggul Hasan bin Ali. Di antara orang yang melihat peristiwa itu ada yang mengatakan kepada Al Hasan:”Sungguh, ini adalah tunggangan yang paling nikmat, Nak.” Mendengar ucapan orang itu, Rasulullah SAW berkata: “Penunggang yang paling menyenangkan adalah anak ini.”
Atau, pada kali yang lain, ketika sedang bersujud, Rasulullah berasa bahwa Hasan menaiki pundak beliau. Maka Rasulullah pun melambatkan sujudnya sampai cucunya itu turun.
Beliau juga pernah bersabda:”Engkau menyerupaiku dalam bentuk dan perangai.”
(Benarlah demikian. Bahkan, pada suatu hari Abu Bakar ash-Shiddiq menggendong Al Hasan sambil berkata: “Engkau lebih menyerupai Nabi daripada Ali.”)
Sedangkan terhadap Al Hasan as dan saudaranya Al Husain as, Rasulullah SAW bersabda:
“Keduanya (Hasan dan Husain) adalah kembang mekarku di dunia.”
“Keduanya ini adalah anakku dan anak dari anak perempuanku. Ya Tuhan, aku mencintai keduanya dan aku cinta kepada siapa yang mencintai keduanya.”
Sabda-sabda tersebut di atas cukup menunjukkan kemuliaan Al Hasan.
Dengan dekatnya hubungan antara Rasulullah saw. dengan cucunya ini, dapatlah dimengerti bahwa dengan sendirinya Al Hasan as sempat bergaul hidup bersama Rasulullah SAW untuk jangka waktu yang cukup lama. Ibu Al Hasan, Fatimah az Zahra, adalah satu-satunya puteri Rasulullah yang paling lama mendampingi hidup ayahandanya. Fatimah hadir di saat ayahandanya menghadap kembali kepada Allah SWT. Sedangkan ayah Al Hasan, Sayidina Ali, seperti sudah diterangkan, adalah orang yang sangat dekat dengan Nabi dan termasuk sahabat yang paling berilmu.
Atas dasar kenyataan itulah maka orang tak lagi merasa sangsi terhadap keluasan ilmu Al Hasan as di samping sifat-sifat luhur lain yang mendekat pada pribadinya, antara lain sifat kedermawanannya yang sangat menonjol.
Tentang ilmunya, diriwayatkan bahwa, suatu hari, Al Hasan as berjumpa dengan seorang Yahudi yang sudah tua. Yahudi tua itu tampak kepayahan. Tubuhnya lemah dan pakaiannya lusuh. Siang itu, ia tengah memanggul sekendi air, berjalan di bawah terik matahari yang menyekat. Ketika kepayahan itulah ia berjumpa dengan Al Hasan as yang berpakaian rapi bersih. Yahudi tersebut berhenti. Dipandangi cucu Rasulullah itu dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Perbuatan tersebut dilakukannya berulan-ulang. Al Hasan as merasa hairan karenanya. Namun belum sempat ia menyampaikan sesuatu, orang tua itu lebih dulu berkata, “Wahai cucu Rasulullah. Ada pertanya yang aku ingin engkau menjawabnya!”
“Tentang apakah itu?’ tanya Al Hasan.
“Datukmu dulu pernah berkata, bahwa dunia ini adalah penjaranya orang Mukmin dan surganya orang kafir.”
“Benar demikianlah adanya.”
“Terus terang, aku melihat yang sebaiknya. Perhatikanlah keadaanku dan keadaanmu. Aku melihat dunia ini adalah sebagai surga bagimu yang mukmin, dan neraka bagiku yang kafir.”
“Dari mana engkau menarik kesimpulan tersebut?”
“Lihatlah. Engkau hidup dalam keadaan senang laksana di surga, sedangkan aku? Hidupku sangat sengsara, tak ubahnya dengan hidup di neraka.”
“Engkau keliru, hai Yahudi. Sesungguhnya, apabila dibandingkan dengan apa yang akan diberikan Allah kepadaku di surga nanti, maka kesenanganku di dunia ini tak ada artinya, sehingga dunia ini ibarat neraka bagiku. Sebaliknya, apabila engkau tahu apa yang akan engkau terima di akhirat nanti, maka engkau akan tahu, bahwa hidupmu yang sekarang ini jauh lebih baik, sehingga di dunia ini engkau seakan berada di surga. Itulah makna ucapan datuk ku Rasulullah SAW.”
Mendengar jawaban Al Hasan as yang sangat mengena itu, si Yahudi terpegun. Mulutnya terkunci, tak berkata apa-apa lagi.
Di samping keluasan ilmunya, Al Hasan as dikenal juga sebagai orang yang sangat dermawan. Pernah, pada suatu hari, Al Hasan as melihat seseorang sedang berdoa. Orang tersebut mengadukan kesulitan hidupnya kepada Allah SWT. Mengetahui keadaan orang itu dan mendengar doanya, dengan serta merta Al Hasan as memberinya wang dalam jumlah yang cukup besar, sehingga orang itu merasa sangat gembira.
Pada hari yang lain, yaitu di tengah perjalanannya untuk menunaikan ibadah haji bersama adiknya, Al Husain, dan Ja’far bin Abdullah r.a., sekali lagi kedermawanan Al Hasan terungkap. Alkisah, dalam perjalanannya menuju Mekkah, ketiga orang ini kehabisan bekal. Tak ada lagi sisa makanan dan minuman yang dapat mereka gunakan untuk meneruskan perjalanan yang masih cukup jauh. Mereka sangat memerlukan tambahan bekal. Namun bagaimana?
Di samping pasir yang tandus itu, di tengah kebingungan mereka, tiba-tiba tampak sebuah rumah. Mereka bertiga kemudin mendatangi rumah tersebut.
“Assalamu’alaikum,” kata mereka hampir serempak.
“Wa’alaikum salam,” terdengar seseorang menjawab dari dalam rumah. Orang itu kemudian keluar, yang ternyata adalah seorang wanita tua.
“Dari manakah kalian?” tanya wanita itu.
“Kami dari Madinah!” Al Hasan menjawab.
“Siapakah kalian?”
“Kami adalah dari Quraisy. Saya adalah Hasan bin Ali, ini adikku Husain, dan itu Ja’far dari kelurgaku juga.”
“Hendak ke mana kiranya Tuan-Tuan?”
“Kami hendak ke Mekkah untuk menunaikan ibadah Haji.”
“Adakah sesuatu yang dapat aku bantu untuk kalian?”
“Terus terang, kami kehabisan bekal. Apakah ibu mempunyai air yang dapat kami bawa?”
“Astaga..! Ada, ada…silahkan kalian bawa ini!” kata ibu itu sambil menyerahkan tempat airnya.
“Masihkah kalian mempunyai makanan?”
tanya ibu itu lagi.
“Tidak. Adakah ibu mempunyai makanan?
Kami bermaksud membelinya,” kata Al Hasan.
“Membeli? Tidak Demi Allah, hanya itu satu-satunya yang aku miliki dan aku bersumpah Tuan-Tuan harus makan itu,” kata ibu tersebut seraya menunjuk satu-satunya domba yang ia miliki.
Domba itu kemudian dipotong, sebagian dimasak untuk dimakan Al Hasan, Al Husain, dan Ja’far. Sedangkan yang sebagian lagi di bawakan si ibu sebagai bekal untuk melanjutkan perjalanan. Ibu tua itu tak mau menerima hadiah apa-apa dari ketiga orang tamunya.
“Demi Allah, aku melakukannya dengan ikhlas,” kata ibu itu lagi.
“Terima kasih banyak. Semoga Allah membalas kebaikan ibu. Kami berharap, apabila ibu datang ke Madinah, sudilah kiranya ibu singgah ke rumah kami. Kami akan senang sekali!” kata Al Hasan mewakili yang lain.
“Insya Allah.”
“Assalamu’alaikum,” kata mereka bertiga.
“Wa’alaikum salam,” jawab ibu itu sambil memandang kepergian ketiga tamunya.
Tak lama setelah kepergian tamunya, suami wanita itu pulang. Ia terkejut melihat domba satu-satunya yang ia miliki tak lagi tertambat di tempatnya. Ia segera menanyakan hal tersebut kepada isterinya.
“ke manakah gerangan domba kita?”
“Oh … tadi ada tiga orang yang datang kemari. Mereka kehabisan bekal dalam perjalanan mereka untuk berhaji. Aku tak punya apa-apa selain domba itu. Maka ia kupotong dan sebagian dagingnya aku berikan kepada mereka.”
Begitulah jawab sang isteri.
“Aduuh… Bagaimana engkau dapat berbuat demikian? Siapakah ketiga orang itu?’
“Mereka mengatakan berasal dari suku Quraisy.”
“Dari mana kamu tahu? Bagaimana kamu boleh percaya begitu saja terhadap ucapan mereka? Kamu tidak mengenalnya, maka bagaimana kamu boleh percaya bahawa mereka dari Quraisy?” tanya sang suami tak habis fikir.
“Tandanya nampak dari wajah-wajah mereka!” jawab isterinya.
Dialog tersebut hanya berlangsung sampai di situ. Sang suami pun mengikhlaskan pemberian itu setelah mendengar keterangan isterinya.
Alkisah, beberapa waktu kemudian, daerah tempat orang tua itu tinggal terserang kesusahan yang sangat dahsyat. Orang-orang daerah tersebut semuanya pergi meninggalkan desa mereka untuk mencari nafkah. Mereka tersebar ke mana-mana. Ada yang ke Makkah, ke Madinah dan juga ke tempat-tempat lain. Nasib ibu tua dan suaminya pun tak berbeza dengan tetangganya yang lain. Sang ibu dan suaminya pergi menuju Madinah. Di kota yang baru ini mereka berjalan mencari nafkah untuk menyambung hidup.
Di tengah pengembaraannya menyusuri jalan-jalan di Madinah, tanpa sadar, ibu itu melewati rumah Al Hasan as, Sang ibu rupanya sudah tak ingat lagi kepada ketiga tamunya yang dahulu. Itulah sebabnya, ia tak berusaha mencari mereka. Secara kebetulan, ketika ibu tua itu lalu, Al Hasan sedang duduk di depan rumahnya. Al Hasan melihat mereka, dan mengejar sepasang suami-isteri itu, kemudian menegurnya.
“Ingkatkah ibu kepada saya?” tanyanya.
“Demi Allah, aku tidak ingat siapa engkau,” jawab ibu itu.
“Ingkatkah ibu kepada tiga orang tamu yang kehabisan bekal di tengah perjalanan mereka untuk berhaji?”
“Tidak!”
“Baiklah, apabila ibu tak ingat kepada saya, maka saya masih dapat mengenali ibu. Saya adalah Hasan bin Ali, orang yang pernah ibu beri makanan dan minuman untuk bekal saya dan dua orang saudara yang lain menuju Mekkah. Mari, silahkan ibu masuk ke rumah saya!” kata Al Hasan as seraya menggandeng keduanya menuju kediamannya.
Di rumah Al Hasan itulah keduanya menceritakan keadaan yang menimpah desa mereka. Al Hasan menyambut keduanya dengan sambutan yang sangat baik. Dijamu kedua tamunya itu dengan penuh hormat. Sebelum pulang, Al Hasan as memberi keduanya wang seribu dinar dan beberapa ekor kambing. Kemudian Al Hasan memanggil pembantunya dan berkata: “Hantarkan kedua tamuku ini ke rumah saudaraku, Husain, dan ke rumah Ja’far!”
“Baik Tuan!” kata pembantunya.
Mereka bertiga kini dalam perjalanan menuju rumah Husain bin Ali as
“Assalamu’alaikum,” kata pembantu Al Hasan.
“Wa alaikum salam,” terdengar jawapan dari dalam rumah.
Tak lama setelah itu, Al Husain membukakan pintu. Ia mengenal pembatu Al Hasan.
“Aku disuruh mengantarkan kedua tamu ini kemari,” kata pembantu itu. Al Husain melihat tamunya. Ternyata ia pun masih mengenal ibu tersebut. Al Husain segera menyambutnya dengan penuh hormat. “Mari, silahkan masuk! Alhamdulillah, akhirnya Allah mempertemukan kita kembali.”
“Allah Mahabesar!” jawab si ibu.
Setelah berbincang-bincang, sebelum minta diri, Al Husain memberi ibu tua tersebut seribu dinar uang dan beberapa ekor domba.
“Sungguh Anda sangat mulia,” kata si ibu. “Semoga Allah yang membalas semua kebaikan ini,” tambah suaminya.” Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam!” jawab Al Husain.
Mereka berdua mohon diri, dan bersama pembantu Al Hasan pergi ke rumah Ja’far.
Tiada beza dengan Al Hasan dan Al Husain, Ja’far bin Abdullah pun menyambut kedua tamunya itu dengan baik. Ternyata, ia pun masih mengenal si ibu tua.
“Astaga… bagaimana kabar kalian!” tanya Ja’far setelah membalas salam keduanya.
“Alhamdulillah, Allah masih melindungi kami,” kata si suami. “Dan Mahabesar Allah yang telah mempertemukan kita kembali,” kata si isteri.
Setelah  lama mereka berbincang-bincang, Ja’far memerintahkan pembantunya menyiapkan beberapa ekor domba, sedangkan ia sendiri masuk mengambil wang. Ia pun memberi ibu tersebut uang seribu Dinar dan beberapa ekor Domba. Setelah mengucapkan terima kasih kepada Ja’far dan bersyukur kepada Allah SWT, mereka pun memohon pulang.
Suami isteri itu kemudian kembali ke desanya dengan bekal tiga ribu dinar w#ang dan beberapa ekor domba. Mereka menjadi orang yang terkaya di desanya.
Kedermawanan Al Hasan as itu sesuai dengan sabda Nabi SAW.:”Kepada Al Hasan aku wariskan kesabaran dan kedermawananku.”
Sejarah mencatat, bahwa setelah Sayidina Ali bin Abi Thalib as wafat, orang ramai membaiat Al Hasan as sebagai Khalifah yang baru. Pada masa itu, keadaan kaum Muslim masih belum bersatu benar. Pemberontakan telah terjadi sejak Ali bin Abi Thalib as menjadi Khalifah. Sepakatan dengan beberapa kelompok kaum Muslimin – yang memerangi Sayidina Ali as dengan alasan menuntut balas atas terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan tak lagi dapat dihindari. Di antara orang yang gigih menuntut balas atas kematian Utsman, adalah Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Ia  yang pada masa pemerintahan Utsman menjadi gubenur di Syam – sudah sejak beberapa waktu sebelumnya menyiapkan tentara. Utsman adalah kerabatnya dari kalangan Bani Umayyah. Dengan tak memberi kesempatan kepada Sayidina Ali untuk menyelidiki terbunuhnya Utsman, Mu’awiyah berangkat memerangi Sayidina Ali. Sebenarnya, Mu’awiyah sangat menginginkan jabatan Khalifah. Karena ia sadar bahwa kaum Muslimin bakal memilih Ali bin Abi Thalib, maka ia terburu-buru memerangi Sayidina Ali as dengan dalil menuntut balas atas terbunuhnya Utsman . Dalam peperangan dengan Sayidina Ali itu, Mu’awiyah dan pengikutnya terdesak. Maka selamatlah mereka dari kehancuran.
Namun demikian pemerintahan Sayidina Ali ternyata berakhir dengan peristiwa pembunuhan atasnya, ketika beliau sedang memimpin shalat Subuh. Suasana negara menjadi tidak menentu sepeninggal Sayidina Ali. Dalam keadaan kacau itulah Al Hasan dibaiat. Mu’awiyah tak tinggal diam mendengar pembaiatan atas Al Hasan as. Ketika mulai menjabat sebagai Khalifah, Al Hasan yang sedar akan apa yang bakal dilakukan oleh Mu’awiyah, segera menulis surat kepada Mu’awiyah, mengingatkan akan pentingnya persatuan, dan meminta Mu’awiyah untuk juga membaiatnya. Surat itu ditulis dengan kata-kata yang baik. Tetapi Mu’awiyah segera membalas surat Al Hasan. Mu’awiyah yang pada waktu itu juga mengangkat diri sebagai Khalifah, menyatakan bahwa ia lebih mampu dan lebih berhak menjadi Khalifah daripada Al Hasan as. Mu’awiyah tak lupa menawarkan “rasuah” kepada Al Hasan as.
Singkat cerita, keadaan semakin dekat dengan perterlingkahan antara Al Hasan dengan Mu’awiyah. Dan Mu’awiyah mulai mencari pengaruh. Ia memujuk setiap orang dan ketua-ketua suku dengan pujukan wang. Tidak sedikit orang yang terpujuk duniawi itu akhirnya berpihak kepada Mu’awiyah. Setelah merasa kuat, Mu’awiyah kemudian menyiapkan pasukan dari Syam menuju Kufah.
Al Hasan as mengetahui semua rencana dan persiapan Mu’awiyah. Dengan cepat ia mengumpulkan penduduk Kufah, yang semuanya berpihak dan memaksa dia untuk menjadi Khalifah. Tapi, ternyata pengikut Al Hasan as tak cukup setia seperti pengikut Mu’awiyah. Setelah pecah pertempuran, panglima pasukan Al Hasan sendiri berpaling tadah, menjadi pengikut Mu’awiyah, karena imbuhan wang satu juta dirham.
Berita pembelotan panglima perang Al Hasan as itu segera tersebar. Perajurit  lainnya yang mendengar berita itu kemudian menjadi kalah. Dengan membabi buta, bahkan menyerang kemah Khalifah Al Hasan sendiri. Mereka merampas harta benda Al Hasan as yang ada dikemah tersebut. Salah seorang dari mereka, Al Jarrah bin Asad, bahkan menyerang Al Hasan sehingga menimbulkan luka-luka pada tubuh beliau.
Al Hasan berkata kepadanya, dan perkataannya itu juga ditujukan kepada yang lain: “Dulu kalian membunuh ayahku. Kini kalian menyerang dan berusaha untuk membunuh diriku.”
Nampaknya, Al Hasan sudah benar-benar tak dapat mempercayai pengikutnya sendiri. Orang yang benar-benar setia kepadanya terlalu sedikit untuk dapat meneruskan peperangan. Dengan pertimbangan itu, dan mengingat pentingnya keutuhan dan persatuan umat, Al Hasan as berniat mengakhiri perang yang jauh tak seimbang, karena hal itu hanya akan menambah banyaknya jumlah korban.
Namun Al Hasan tidak semudah itu melepaskan jabatan dan membiarkan Mu’awiyah berkuasa semaunya. Sebelum menyerahkan kekhalifahan kepada Mu’awiyah, terlebih dahulu ia mengadakan perjanjian. Di antara isi perjanjian yang panjang tersebut, salah satu bagiannya menyebutkan, bahwa sepeninggal Mu’awiyah, kepemimpinan umat akan diserahkan kembali kepada kaum Muslimin untuk memilih sendiri pemimpin yang mereka kehendaki. Di sinilah nampak bagaimana Al Hasan benar-benar memperhatikan kepentingan kaum Muslimin. Bab itu akhirnya dilanggar oleh Mu’awiyah yaitu dengan mengangkat putranya, Yazid, sebagai pengganti dirinya, sementara kaum Muslimin tak dapat berbuat apa-apa di bawah ancaman pedang dan sebahagiannya lagi luluh karena pujukan wang dan jawatan.
Setelah dicapai kesepakatan dengan Mu’awiyah bin Abu Sufyan, sebelum meninggalkan Irak untuk menuju Madinah, Al Hasan sempat menyampaikan pesan dan kesannya untuk penduduk Irak. Ia antara lain berkata:
“Wahai penduduk Irak, ketahuilah, bahwa ada tiga hal yang menyebabkan aku tak lagi berani menggantungkan diriku pada kalian dan tidak dapat mempercayai kalian. Pertama, kalian telah membunuh ayahku; kemudian kalian telah berusaha untuk membunuh aku; dan yang terakhir, kalian telah menyerang dan merampas barang-barang di kemahku. Aku yakin, bahwa orang yang menggantungkan nasibnya kepada kalian, pasti akan ditimpa kekalahan…”
Setelah itu, Al Hasan meninggalkan Kufah menuju ke Madinah, Konon, penduduk Kufah menangisi Pemindahan Al Hasan. Namun rupanya benarlah kata pepatah:”Sekali lencung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya.” Al Hasan tak lagi dapat mengubah pendiriannya.
Telah bulat tekad Al Hasan as untuk meninggalkan Kufah, betapapun orang menahannya. Ia kemudian hidup di Madinah, menekuni ibadah, mendalami ilmu, dan selalu mengisi waktunya dengan amal-amal yang dapat mendekatan diri kepada Allah SWT. Banyak waktu dihabiskannya di Masjid Rasulullah dan membantu setiap orang yang kesusahan.
Al Hasan as dikenal sebagai orang yang tak memzeda-bezakan pangkat dan kedudukan. Suatu hari, sekelompok orang miskin mengundangnya untuk makan bersama. Al Hasan duduk, makan bersama mereka meski pun hanya bersantap dengan sepotong roti kering. Semua itu ia lakukan dengan sepenuh hati, tanpa berbisik perasaan walau sedikit pun. Setelah itu, ia ganti mengundang orang-orang tersebut untuk makan dirumahnya. Atau pada waktu yang lain, ia memenuhi undangan anak-anak kecil. Begitulah hari-hari Al Hasan di Madinah.
Sampai ketetapan Allah datang kepadanya. Hari itu, 28 Safar tahun 50 Hijriyah, Al Hasan merasakan sesuatu yang tidak sedap pada tubuhnya. Ia terbaring lemah. Al Husain as, adik kandungnya, duduk disamping tubuh abangnya. Ia merasa hairan mengetahui sakit abangnya yang sangat mendadak itu. Rupanya, Al Hasan as telah diracuni.
“Katakan, siapakah yang telah meracunimu?” tanya Al Husain.
“Tiga kali sudah aku diracuni orang, namun yang sekali ini sungguh luar biasa!” kata Al Hasan as.
“Katakanlah, siapakah orang yang telah meracunimu itu!” pinta Al Husain as mendesak.
Rupanya, Al Hasan sengaja tak mau menyebutkan nama orang yang telah meracuninya, meskipun Al Husain berkeras menanyakan hal tersebut.
Tak ada catatan yang pasti tentang orang yang meracuni Al Hasan. Sebagian riwayat menyebutkan, bahwa Al Hasan diracuni oleh isterinya sendiri yang bernama Ja’dah binti Asy’ats. Terpujuk oleh rayuan Mu’awiyah untuk dikawinkan dengan putranya yang bernama Yazid, ditambah imbuhan seratus ribu dinar, Ja’dah terpikat untuk membunuh Al Hasan. Diceritakan, bahwa Ja’dah kemudian menerima wang sebanyak seratus ribu dinar itu, namun Mu’awiyah menolak untuk mengawinkan dia dengan Yazid. Ketika ditanya tentang alasannya tidak mengawinkan Ja’dah dengan Yazid, Mu’awiyah berkata: “Bagaimana mungkin aku berani mengawinkan dia dengan anakku? Apabila ia telah tega meracuni cucu Rasulullah SAW, maka apa pula yang akan dia lakukan terhadap puteraku, Yazid?” Ja’dah terpegun dan baru sadar setelah semuanya terjadi.
Jenazah Al Hasan as dimakamkan di pekuburan Baqi’, dekat makam neneknya, Fatimah binti Asad. Kaum muslimin berkabung mendengar berita wafatnya Al Hasan as. Masih jelas dalam ingatan mereka, betapa Al Hasan sangat menyerupai Nabi hampir dalam semua hal. Kerinduan orang kepada Nabi yang biasanya terobati dengan hadirnya Al Hasan as kini tak mungkin dinikmati lagi…

CUCU RASULULLAH SAW

KELAHIRAN YANG DIBERKATI
Setahun selepas keputeraan  al-Hassan bin Ali bin AbuTalib ‘a.s. iaitu pada hari ketiga bulan Sya’aban tahun keempat hijrah telah datang khabar penuh gembira kepada Rasulullah s.’a.w dengan kelahiran cucundanya al-Hussayn putera Fatimah az-Zahra ‘a.s. Setélah menerima berita itu lantas bersegeralah Rasulullah saw menuju ke rumah Fatimah dan Sayidina Ali Sesampainya junjungan  saw. ke sana lantas bersabda kepáda Asma’ binti ‘Amis; Wahai Asma’ berikanlah cucundaku itu kepadaku, lalu Rasulullah SAW rnemangku al-Hussein as. dan diletakkan di atas hamparan putih dan dengan penuh kesukacitaan Rasulullah saw. mengucup bayi itu dan melaungkan azan ditelinga kanan bayi yang mulia dan iqamat ditelinga kirinya dengan penuh kesukacitaan Rasulullah saw meletakkan bayi itu di atas pangkuanñya lalu menangis sehingga Asma’ pun bertanya; Mengapa dikau menangis wahai Rasulullah? Sabda Rasulullah saw Aku mènangis kerana cucunda aku ini. Lantas Asma’ bertanya Inilah bayi yang dilahirkan kena pada masanya. Rasulullah saw bersabdá lagi; Wahai Asma’! Cucundaku ini akan dibunuh oleh satu kumpulan penderhaka selepas kewafatanku dan mereka itu tidak akan memperolehi syafa’atku. Rasulullah saw menyambung lagi Wahai Asma’ janganlah berita ini disampaikan kepada puteriku Fatimah kerana ini merupakan satu peristiwa yang dijanjikan pada masa kelahirannya [Dirujuk dari kitab I’lam al-Wara bi I’lam al-Huda karangan at-Tibrasi, bab Keutamaan Imam Abu Abdullah al-Hussein cetakan tahun 1379, hlm. 217]
Berikutnya Rasulullah SAW menemui Sayidina Ali bin Abu Talib as., ayahanda kepada Al-Hussein lantas bersabda kepadanya; Apakah yang ingin dinamakan cucundaku ini? Lalu Sayidina Ali menjawab; Aku tidak akan mendahului dikau dalam menamakannya wahai Rasulullah SAW Dengan peristiwa ini lalu turunlah wahyu yang suci ke atas kekasih Allah Muhammad s. a.w yang membawa nama kepadanya daripada Allah Azza wajalla, lantas Rasulullah SAW bersabda kepada Sayidina Ali  as.: Dinamakan dia Hussein
Pada hari ketujuh selepas keputeraan al-Hussein bersegera pula Rasulullah SAW pergi ke rumah puterinya az-Zahra ‘a.s. Di Sana junjungan menyembelih seekor kambing untuk al-Hussein ‘a.s. dan mencukur rambut cucundanya itu serta memberi sedekah perak sebanyak rambutnya itu. Demikian peristiwa kelahiran al-Hussein ‘a.s. sebagaimana saudaranya al-Hasan a.s. yang merupakan cucunda kepada Nabi Besar Islam Muhammad saw[Asyi’at min hayat al-Hasan bin Ali ‘a.s diterbitkan oleh Dar At-Tauhid]
KEDUDUKAN AL-HUSSEIN ‘A.S.
Al-Hussein ‘as. yang bergelar Abu Abdullah itu memiliki maqam serta kedudukan yang agong. Kedudukannya yang demikian agong itu hanya boleh disaingi oleh ayahandanya Imam All bin Abu Talib as., bondanya Saidatina Fatimah az-Zahra ‘a.s. dan para itrah dari zuriat Rasulullah saw Adalah sukar bagi para sejarawan untuk merakamkan keududkan al-Hussein ‘as. dari sudut pandangan Islam. Mereka hanya mungkin terdaya mengkaji kebesaran maqam al-Hussein ‘a.s. yang menjadi pemimpin para syuhada’ itu dari kacamata syari’at Islamiah semata-mata.
Al-Qur’an al-karim sendiri yang merupakan kalam ‘Allah yang sentiasa menegakkan kebenaran telah merumuskan secara terang benderang mengenai kedudukan ahlul-Bayt atau keluarga rumahtangga Rasulullah SAW yang diwakili oleh Al-Hussein ‘a.s:. Allah berfirman dalam surah al-Ahzab ayat 33:
Ertinya: “Hanyasanya Allah ingin rnenghapuskan segala kekejian dari kamu (wahai) ahl al-Bayt Rasulullah SAW dan menyucikan secara semurninya.”[Boleh dirujuk di dalam kitab Sahih Muslim, Bab Fadhail as-Sahabah atau Sahih Tirmidzi, Juzu’ 2 atau Musnad Ahmad bin Hanbal dan al-Hakim Naisaburi dalam kitabnya Mustadrak]
Para ahli hadith telah merumuskan sebab-sebab turunnya ayat di atas adalah sehubungan dengan do’a Rasulullah saw. yang dipanggil kisa’. Rasulullah SAW menujukan do’anya itu terhadap Saidina Ali, Saidatina Fatimah dan kedua-dua puteranya al-Hasan ‘a.s. dan al-Hussein ‘a.s. Maksud do’a tersebut ialah; Ya Allah merekalah Ahlul Baytku (ahli rumahtanggaku), oleh itu hapuskanlah kekejian dari mereka dan sucikanlah mereka dengan sebenar-benarnya.)
Ayat tersebut diturunkan bersempena dengan do’a itu. Selanjutnya ayat yang penuh keberkatan ini menandakan penyaksian daripada Allah s.w.t. sendiri berhubung dengan kesucian ahl Bayt ‘a.s. Rasulullah saw serta ketinggian maqam dan kedudukan mcrcka menurut kacamata Islam.
Suatu lagi ayat al-Qur’ãn yang menyatakan ketinggian martabat ahi bayt atau ahli rumahtangga Rasulullab saw. yang diwakili oleh al-Hussein ‘a.s. ialah ayat Mubahalah (Sanggahan terhadap pendustaan orang-orang kafir) Allah s.w.t. telah berfirman di dalam surah ‘Ali Imran ayat 61:
Ertinya: “Barangsiapa membantahmu tentangnya (kisah Nabi Isa ‘a.s.) sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah kepadanya; “Marilah kita memanggil anak-anak kami, dan anak-anak kamu, isteri-isteri (perempuan) kami dan perempuan-perempuan kamu, diri-diri kami dan diri-diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.”
Dalam membicarakan sebab-sebab turunnya ayat ini, para ahli tafsir telah  berpendapat yang selaras dengan pandangan para ulama lainnya, bahawasanya ayat ini turun ketika mana kaum Nasara dari Najran telah bersetuju untuk menemui Rasulullah saw untuk bermubahalah atau membuktikan kebenaran dengan Allah S.W.T. Demi untuk bermubahalah dan membuktikan kebenaran risalah yang dibawanya lantas Rasulullah saw telah keluar menemui orang-orang Nasrani itu bersama Ahlul Baytnya  ‘a.s.[Perkara ini boleh dirujuk dalam kumpulan hadith-hadith sahih yang enam bab Fadhail al-Khamsah, boleh juga dirujuk dalam tafsir Az-Zamakhshari, dan Imam Fakhur Razi serta Ad-Dar Manthur oleh al-Suyuti] Mereka terdiri dari cucunda-cucundanya yang dikasihi iaitu al-Hasan dan al-Hussein ‘a.s puterinya Fatimah az-Zahra ‘a.s yang berjalan di belakangnya dan saudaranya serta menantunya Sayidina Ali bin Abu Talib ‘a.s yang berjalan di belakang mereka.
Lalu Nabi saw bersabda: Apabila aku menyeru kamu semua hendaklah beriman…….Akan tetapi setetah orang-orang Nasara itu melihat wajah-wajah ahlul Bayt Rasulullah saw yang suci murni dan hebat itu menyebabkan jiwa mereka menjadi goncang dan meminta supaya Rasulullah saw membatalkan tindakan mubahalah (pembuktian kebenaran dan la’nat Allah). Berikutnya mereka menerima dan taat terhadap pemerintahan Rasulullah saw dan mereka membayar jizyah kepada pemerintahan Madinah.
Di dalam ayat tersebut kita akan dapat melihat bahawa diibaratkan Sayidina Hasan dan Hussein ‘a.s sebagai anak-anak (Abna’), sedangkan Nabi Muhammad saw dan ‘Ali bin Abu Talib ‘a.s sebagai diri-diri kami (Anfusana). Adapun Fatimah az-Zahra diibaratkan sebagai mewakili wanita Islam seluruhnya dengan lafaz (Nisa’ana). Berdasarkan ayat tersebut dan huraiannya yang jelas itu telah memaparkan kepada kita mengenai ketinggian maqam dan kedudukan Ahlul Bayt Rasulullah saw sehinggakan  apabila Rasulullah saw ingin membuktikan kebenaran ajaran Islam dan konsep Isa al-Masihi menurut al-Qur’an lantas Rasulullah saw mengajak keempat-empat Ahlul Baytnya iaitu Hasan dan Hussein ‘a.s serta Ali ‘a.s dan Fatimah az-Zahra, untuk berdepan dengan orang-orang nasrani (kristian) dari Najran itu.
Gambaran ketinggian darjat ahli keluarga Rasulullah saw juga dapat diperhatikan di dalam ayat 23 Surah asy-Syura firman Allah, bermaksud:
“Katakanlah, aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang kepada keluarga yang terdekat (Ahlul Bayt Rasulullah s. ‘a.w).”
Para ulama tafsir berpendapat bahawa ayat tersebut turun berhubung dengan Ali, Fatimah, Hasan dan Hussein ‘a.s. Menurut riwayat seorang sahabat yang bernama Jabir bin Abdullah r.d katanya, seorang Arab telah datang kepada Rasulullah saw lantas berkata, wahai Muhammad, Kemukakan kepada saya apakah sebenarnya Islam itu? Lalu Rasulullah saw bersabda; Engkau hendaklah bersaksi bahawasanya Tiada Tuhan melainkan Allah yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagiNya dan bahawasanya Nabi Muhammad itu adalah hambaNya dan rasulNya.” Orang Arab itu bertanya lagi, apakah upahnya ke atas perkara itu? Rasulullah saw bersabda, Tidak ada upahnya melainkan engkau memberikan kasih sayangmu kepada ahli keluargaku yang terdekat. Bertanya lagi lelaki itu: “Keluarga akukah ataupun keluargamu? Seterusnya Rasulullah saw bersabda: Keluargaku. Berikutnya lelaki itu berkata; Datanglah, aku ingin memberi bai’ah (taat setiaku) kepadamu, dan barang siapa yang tidak mengasihimu dan tidak mengasihi kaum kerabatmu yang terdekat nescaya akan menerima laknat Allah. Rasulullah saw mengaminkan do’a lelaki tersebut.
Menurut kitab Musnad Imam Ahmad bin Hanbal, Sahih Bukhari dan Muslim, Kitab ath-Tha’labi dan Tafsir At-Tibrasi yang kesemuanya meriwayatkan dari Abdullah bin al-Abbas r.d yang berkata bahawasanya ketika turun ayat tersebut maka para sahabat bertanya kepada Rasulullah saw Wahai Rasulullah siapakah  kerabatmu yang terdekat yang wajib kami curahkan kasih sayang kepada mereka. Sabda Rasulullah saw  Mereka  ialah ‘Ali, Fatimah dan kedua-dua putera mereka al-Hasan dan al-Hussein ‘a.s.
Berasaskan keterangan tersebut amat nyata dan jelas tentang kedudukan al-Hussein dan Ahlul Bayt ‘a.s yang sedemikian tinggi di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Berikut ini akan dibentangkan  pula sikap dan pendirian Rasulullah sebagai datuk kepada al-Hussein terhadap cucundanya yang tercinta itu. Tegasnya akan dikemukakan kedudukan  Hussein  as menurut Sunnah Rasulullah saw
1. Menurut kitab Sahih at-Tirmidzi yang memetik riwayat dari Ya’la bin Murrah yang berkata; Rasulullah saw telah bersabda yang bermaksud Hussein daripadaku dan aku pula daripada Hussein, Allah mencintai sesiapa yang mencintai al-Hussein, adapun al-Hussein zuriat keturunanku putera kepada puteriku (az-Zahra).
2. Seorang sahabat Rasulullah saw bersabda bermaksud, al-Hasan dan al-Hussein adalah cucundaku, sesiapa yang mengasihi kedua-duanya maka mereka mengasihiku dan sesiapa yang mengasihiku maka ia telah mengasihi Allah dan sesiapa yang mengasihi Allah maka ia akan dimasukkan ke dalam syurga; Dan sesiapa yang memusuhi kedua-duanya maka ia telah memusuhi Allah, dan barang sesiapa memusuhi Allah maka ia akan dicampakkan ke dalam api neraka mukanya akan terlempar dahulu.[ Lihat kitab I’lam al-Wara, at-Tibrasi bab Fadhail as-Sabtin, m.s. 219]
3. Seorang sahabat yang bernama al-Barra’ bin ‘Azib berkata; Aku telah melihat Rasulullah saw mendokong al-Hussein cucundanya yang masih kecil dan meletakkan di atas pangkuannya seraya berdo’a yang bermaksud; Ya Allah sesungguhnya aku mengasihinya oleh itu kasihilah dia.
4. Manakala Abdullah bin Mas’ud r.a pula berkata; Sesungguhnya Rasulullah saw pernah bersabda mengenai al-Hasan dan al-Hussein ‘a.s; Inilah kedua-dua cucundaku! Sesiapa yang mencintai kedua-duanya maka ia mencintaiku dan sesiapa membenci kedua-duanya maka sesungguhnya ia membenciku.
5. Putera al-Hussein yang bernama Ali Zainal ‘Abidin pula meriwayatkan dari bapa dan datuknya, katanya bahawasanya Rasulullah saw telah mengangkat tangan al-Hasan dan al-Hussein dan bersabda; sesiapa yang mencintaiku maka hendaklah ia mencintai kedua-duanya akan menyertaiku pada hari Qiamat.[Sila rujuk kitab Tazkiratul Khawas karangan Ibn al-Juzi, Bab Mencintai Rasulullah dan al-Hasan dan al-Hussein]
KEMURNIAN PERIBADI AL-HUSSEIN ‘A.S
Tidak dapat disangkal lagi bahawa kedua cucunda Rasulullah saw al-Hasan dan al-Hussein ‘a.s telah membesar dan terasuh pada satu tahap yang dipersiapkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Ini disebabkan mereka akan menghadapi tugas yang besar untuk memimpin umat Islam dan seluruh dunia selepas kewafatan datuk mereka Rasulullah saw Mereka juga berperanan besar untuk menegakkan dakwah dan risalah Islam sebagai lanjutan peranan Rasulullah saw Pendek kata kedua-dua  putera Fatimah az-Zahra ini telah melalui suatu proses tarbiyah dan asuhan kerohanian dan pemikiran di bawah naungan nenda mereka Nabi Muhammad saw dan kedua-dua ibu bapa mereka yang tercinta Sayidina Ali bin Abu Talib ‘a.s dan Fatimah az-Zahra binti Rasulullah saw
Oleh yang demikian kemurnian peribadi cucunda Rasul Islam yang agong saw itu menjadi sebati dan sepadu dengan risalah Allah Tabaraka wa Ta’ala. Lebih-lebih lagi sekiranya kita tinjau dari sudut aliran pemikiran mereka, tindakan dan perjuangan mereka yang agong. Di sini akan dibentangkan beberapa gambaran mengenai keperibadian as-Syahid al-Hussein ‘a.s yang disoroti  dari aspek pemikiran, ideologi, kerohanian dan amalan-amalannya.
Hubungan  al-Hussein ‘a.s dengan Allah SWT
Dengan batasan kemampuan yang ada ingin membentangkan secara menyeluruh bagaimana mendalamnya hubungan al-Hussein ‘a.s, pemimpin para Syuhuda ini dengan Tuhannya yang dirinduinya. Keperibadian dan sudut kerohanian beliau ini boleh dikaitkan dengan asuhan datuknya Rasulullah saw dan kedua-dua orang tuannya yang suci. Malah keperibadian ketiga-tiga pengasuhnya itu terpancar nyata pada keperibadian al-Hussein ‘a.s.
Pernah pada suatu hari beliau ditanya oleh seseorang; Apakah yang menyebabkan engkau sedemikian takut kepada Allah? Lantas Al Hussein as berkata; Seseorang itu tidak akan mencapai kesejahteraan pada hari qiamat melainkan bagi mereka yang benar-benar takut kepada Allah di dunia.
Pada suatu ketika yang lain  al-Hussein ‘a.s. dilihat.sedang mengambil wudhu’ untuk bersembahyang lalu didapati berubah air mukanya dan menggeletar seluruh jari-jarinya, lalu seseorang bertanya rnengenai kcadaannya yang demikian itu. Berikutnya  ia berkata; Inilah hak bagi sesiapa Yang menyedari Allah yang Maha Pcrkasa menguasai kedua-dua tangannya nescaya ia akan menghadapi keadaan berubah air mukanya dan menggeletar jari-jarinya
Untuk melihat dengan lebih nyata perihal mendalamnya hubungan al-Hussein ‘a.s. dengan Allah ialah dengan memerhatikan kebesaran peribadinya pada peristiwa KARBALA yang rnembawa kepada kesyahidanriya. Pada malam kesepuluh bulan Muharrãm yang suci (Asyura)  al-Hussein ‘a.s. yang sedang dikepung oleh tentera Bani Umaiyah teiah meminta mereka membenarkannya dalam detik terakhir dari kehidupannya untuk melakukan sesuatu. Katanva; Sesungguhnya kami ingin menunaikan sembahyang dan berdo’a pada Tuhan kami pada malam ini serta ingin benar kami memohon ampun kepadaNya. Kerana sesungguhnya Dia (Allah) amat mengetahui bahawa aku amat rindu untuk sembahyang kepadaNva, membaca kitabNva serta memperbanyakkan do’a dan istighfar.
Malah dalam detik-detik terakhir hayatnya al-Hussein ‘a.s masih sempat bersembahyang zuhur pada siang hari di Padang Karhala dan meminta kepada para penyerang memberinya kesempatan untuk berdo’a dan bermunajat kepada Allah. Inilah jalan hidup yang dilalui oleh baginda cucunda Rasulullah saw yang tercinta. Lihatlah bagaimana kuatnva kerinduan dan keasyikan al-Hussein ‘a.s. kepada khaliqnya, pencipta dan pendidiknya.
Antara do’a yang sering dikumandangkan oleh beliau adalah sebagaimana berikut:
“Ya Allah! Kurniakanlah kepadaku kerinduan dan kecintaan pada akhirat, sehingga aku mengenali kebenarannya di dalam hatiku dengan timbulnya rasa zuhud terhadap keseronokan duniaku. Ya Allah! Kurniakanlah kepadaku melihat dengan nyata segala urusan akhirat sehingga aku menuntut kebaikan-kebaikannya secara bersungguh-sungguh dan hindarilah diriku dari kejahatan dengan penuh perasaan takut untuk melakukannya…….Ya Rabbi…..”
Inilah sebahagian daripada kenyataan hubungan kerohanian di antara al-Hussein ‘a.s dengan Tuhannya SWT dan ekoran dari hubungan ini, akan membentangkan pula keterampilan dan kecemerlangan pergerakan revolusi al-Hussein ‘a.s, pengorbanannya untuk menegakkan Islam, dan kesastriannya dalam menegakkan konsep jihad Islam yang sebenar-benarnya pada jalan Allah Subhanahu wa-Ta’ala.
Hubungan Sayidina Hussein ‘a.s dengan manusia
Seandainya kita ingin mendalami aspek akhlak dari keperibadian al-Hussein ‘a.s maka amatlah wajar kita melihatnya dari segi perhubungan timbal balas beliau dengan umat manusia yang ditinjau dari berbagai suasana berasaskan bahawa beliau menjadi suri teladan kepada umah. Bolehlah dikatakan bahawa keperibadian al-Hussein ‘a.s dari sudut ini sebagaimana juga yang dilalui oleh para Imam umat Islam  yang lain yang mana perhubungan dengan manusia dibataskan oleh perundangan Allah SWT. Dengan kata-kata lain perlaksanaan amalan hidup beliau ini tergambar secara nyata dalam dunia kenyataan.
Sungguhpun begitu di sini akan disoroti sebahagian dari aspek akhlak al-Hussein yang memaparkan ketinggian budi pekertinya.
Merendah diri
Apabila beliau melalui suatu perhimpuan orang-orang faqir miskin yang sedang menjamu makanan, lantas beliau memberi salam ke atas mereka. Berikutnya orang-orang faqir tadi menjemputnya untuk makan bersama mereka, lalu al-Hussein ‘a.s duduk bersama mereka dan berkata; Kalaulah makanan ini tidak merupakan sedekah dari orang ramai nescaya aku akan makan bersama anda semua. Kemudian beliau berkata; Silalah datang ke rumah saya, lantas kesemua mereka berpergian ke rumah al-Hussein ‘a.s dan menikmati jamuan yang lazat serta mereka dilayani dengan sewajarnya.
Pendek kata di luar kemampuan untuk membentangkan secara terperinci tentang sifat merendah diri, tawadhu’ dan ketinggian budi al-Hussein ‘a.s. Namun begitu boleh dikatakan beliau telah mencapai tahap tertinggi sebagai pemimpin umat, sumber rujukan pemikiran dan perjuangan umat Islam sebagaimana yang telah digariskan oleh nas-nas al-Qur’an dan hadith-hadith Rasulullah saw
Adapun pencapaian yang tertinggi di dalam masyarakat sezamannya tidak mampu disaingi oleh tokoh-tokoh lain, walaupun oleh saudaranya Abdullah bin Abbas sekalipun yang lebih tua darinya. Malah Ibn Abbas menghormati kedudukan al-Hussein ‘a.s sehingga ia menarik tali tunggangan yang ditunggangi oleh al-Hussein ‘a.s sebagai tanda penghormatan dan kasih sayang.
Adapun kecintaan masyarakat Islam dan penghormatan mereka kepada al-Hussein ‘a.s dapat dilihat ketika mana beliau sedang menunggang kenderaannya untuk menunaikan fardhu haji di Mekah maka orang ramai telah turun dari kenderaan masing-masing untuk menyatakan penghormatan mereka kepada cucunda Rasulullah ‘s.a.w. Secara ringkas boleh dikatakan kemuliaan martabat beliau terletak kepada sikap merendah dirinya sehingga boleh bergaul dengan masyarakat yang paling sederhana pada zaman itu. Inilah jalan  hidup seorang zahid yang dituntut oleh Islam. Contoh yang paling dekat jika kita perhatikan bagaimana pada suatu ketika al-Hussein ‘a.s melalui suatu perhimpunan orang-orang miskin yang sedang menghadapi makanan mereka mengajak beliau makan bersama lantas beliau turun dari kenderaannya dan makan bersama mereka seraya berkata; Sesungguhnya  Allah tidak menyukai orang-orang yang berbesar diri. Al-Hussein ‘a.s menyatakan lagi; Sesungguhnya aku telah menerima pelawaan anda maka terimalah pula pelawaanku. Mereka berkata; Boleh! Lalu mereka semua diajak ke rumahnya dan menjemput mereka dengan katanya; Masuklah anda ke dalamnya dengan penuh kelapangan.
Satu contoh lagi mengenai peranan positif beliau di dalam masyarakat tergambar nyata dari keterangan Syu’aib bin Abdul Rahman katanya; Pada suatu hari didapati suatu beban yang berat di atas bahu al-Hussein bin Ali, lantas orang bertanya puteranya Zainal Abidin mengenainya. Kata beliau; Inilah tugas yang mesti dilaksanakan bagi sesiapa yang memikul bebanan untuk meringankan penderitaan yang dibawa ke rumah-rumah golongan miskin, yang terlantar dan anak-anak yatim.
Inilah gambaran tanggungjawab sosial al-Hussein ‘a.s yang mengisyaratkan ketinggian darjatnya di dalam masyarakat.
Al-Hussein ‘a.s Seorang Pemaaf
Pada suatu hari seorang budak yang melakukan kesilapannya kepada al-Hussein ‘a.s telah berkata kepadanya: Wahai Tuan! Dan orang-orang yang menahan amarahnya (Firman Allah Surah Ali Imran: 134).  al-Hussein ‘a.s berkata; Terhindarlah aku daripadanya. Lantas budak itu berkata;…….Dan orang-orang memaafkan (kesalahan) orang. Beliau berkata; Aku telah memaafkan dikau. Budak itu berkata: Wahai Tuan! Dan Allah menyukai golongan yang berbuat baik. Lalu Imam berkata kepada khadamnya itu; Dan anda dimerdekakan kerana Allah, jika anda kekurangan sesuatu bolehkah aku menolongmu.[Sumber Kasyful Ghimmah, Juzu’ 2, hlm. 241]
Keindahan Jalan Pemikiran Al-Hussein A.S.
Jalan pemikiran dan minhaj yang dilalui oleh al-Imam ialah jalan yang disyariatkan oleh Allah, perhatikan dialog beliau dengan penentangnya dari puak Khawarij iaitu Nafi’ bin al-Azraq yang berkata dengan angkuh kepadanya; “Sifatkanlah aku ini sebagai Tuhanmu yang disembah olehmu!’ Dengan penuh kebijaksanaan dan diplomasi al-Hussein ‘a.s menyatakan; Wahai Nafi’! Sesiapa yang meletakkan agamanya di atas jalan kias, maka ia tidak akan mencapai apa-apa faedahpun, ianya kosong tanpa jalan yang terang, terlonta-lonta tanpa pedoman, sesat kehilangan arah tujuan, berkata-kata tanpa keindahan, Wahai Putera al-Azraq! Sifatkanlah Ilahi Allah sebagaimana Dia menyifatkan diriNya, Dia tidak boleh dicapai dengan pancaindera, dan tidak boleh dikiaskan atau dibandingkan, yang terlalu dekat tanpa boleh disentuh, dan yang terlalu jauh tanpa hujungnya, Dia Maha Esa tanpa memiliki bahagian, dikenaliNya berdasarkan tanda-tanda ciptaanNya, yang boleh disifatkanNya dengan alamat-alamat dari makhlukNya, Tiada Tuhan Yang Layak di sembah melainkan Dia yang Maha Besar lagi Maha Melaksanakan….”
Mendengar ucapan al-Hussein ‘a.s itu Ibn al-Azraq menangis tersedu-sedu tanda penyesalannya yang tiada taranya seraya berkata; Alangkah indahnya kata-katamu![Lihat tulisan Abu ‘Ilm Ahlul Bayt, Bab Keilmuan, Kefasihan dan Ketinggian pidatonya]
Dalam perjalanannya menuju Karbala’, al-Hussein mengungkapkan ucapannya yang menggariskan pendirian dan sikapnya untuk menegakkan kebenaran Islam, demi menentang kezaliman dan penipuan politik musuhnya Yazid bin Muawiyah. Dengarlah kata-kata al-Hussein ‘a.s; “Sesungguhnya dunia ini telah berubah dan mengingkari haq, kebenaran telah ditinggalkan, tidak ada lagi yang tinggal padanya melainkan semut-semut dibekas-bekas makanan. Demikianlah tandusnya kehidupan sebagai penggembala kehilangan ternakannya. Tidakkah anda melihat kebenaran dan kenapakah tidak melaksanakannya? Akan tetapi kebatilan  dan kejahatan mengapa tidak boleh dihentikan……untuk menggembirakan seorang beriman dalam pertemuan dengan Allah…..ianya suatu kepastian. Sesungguhnya aku tidak melihat kematian, dan maut yang mendatang melainkan dengan penuh kebahagiaan, hidupku bersama dengan si zalim bagaikan duri yang menikam serta api yang membakar. Sesungguhnya manusia telah menjadi hamba dunia dan agama hanya berputar di lidah-lidah mereka, demikian jalan kehidupan yang dijalani oleh mereka, maka apabila mereka ditimpa dugaan hidup lantas mereka berkata telah hampirnya kami kepada kematian.”[Al-Hirani, Tuhful ‘Uqul ‘an Ali Rasul, Bab Apa yang ku lihat tentang al-Imam Hussein  bin ‘Ali, hlm. 174]
Gambaran pemikirannya mengenai ibadah dan konsep perhubungan hamba dengan Allah terlukis dengan menariknya di dalam satu rangkaian ucapannya:
“Sebenarnya suatu golongan yang beribadat kepada Allah dengan rasa sukacita dan kelapangan maka itulah ibadat para pedagang. Adapun golongan manusia yang beribadat kepada Allah dalam keadaan takut dan penuh pengharapan, maka itulah ibadat golongan hamba Allah. Adapun suatu golongan yang beribadat kepada Allah dengan rasa penuh kesyukuran maka itulah ibadat golongan yang merdeka dan inilah bentuk ibadat yang paling utama.” [Al-Hirani, Tuhful ‘Uqul ‘an Ali Rasul, Bab Apa yang ku lihat tentang al-Imam Hussein  bin ‘Ali, hlm. 175]
Selanjutnya perhatikanlah pendirian politik al-Hussein ‘a.s ketika beliau mengupas perihal kerajaan Umaiyyah yang dilihat dari kacamata Islam; “Wahai manusia sesungguhnya Rasulullah saw telah bersabda; sesiapa yang melihat suatu pemerintahan yang menyimpang iaitu menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah, mengengkari perjanjian dengan Allah serta menentang sunnah Rasulullah saw mereka pula melaksanakan perintah terhadap hamba-hamba Allah dengan membawa unsur dosa dan permusuhan, sedangkan ia tidak membuat perubahan sama ada dengan perbuatan dan perkataan, maka menjadi hak Allah untuk memasukkannya ke dalam neraka.” Berkata  al-Hussein ‘a.s lagi; “Ketahuilah bahawasanya mereka itu sentiasa menta’ati syaitan, serta meninggalkan  ketaatan kepada Allah Yang Maha Pemurah. Selanjutnya mereka melanggar undang-undang Allah, suka menyebarkan fitnah, menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah serta mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah. Ketahuilah bahawa aku bertanggungjawab terhadap orang lain. Dan seterusnya aku telah difahamkan dengan perutusan kamu dan aku juga telah menerima kedatangan utusan anda semua yang menyatakan bai’at atau persetiaan kamu. Sesungguhnya mereka tidak dapat menyelamatkan aku dan tidak juga dapat memecatku. Seandainya telah sempurna bai’at kamu maka ikutilah pemikiran yang betul. Sesungguhnya aku ialah al-Hussein ‘a.s bin Ali ‘a.s yang juga putera Fatimah binti Rasulullah saw, diriku  adalah berserta diri kamu semua, keluargaku bersama keluarga kamu. Aku  adalah suri teladan bagi kamu, lalu kamu semua telah mengikat perjanjian denganku dan kamu semua telah mengikat perjanjian denganku, dan kamu semua juga telah terikat untuk membai’atku. Oleh itu bagaimanakah kiranya anda semua telah mengengkari semuanya. Sesungguhnya tindakan yang demikian itu ditujukan kepada ayahandaku, saudaraku dan sepupuku Muslim bin ‘Aqil. Terpulanglah kepada kamu untuk melaksanakan persetiaan itu. Sesiapa berusaha dan beramal maka kesemua itu untuk kebaikan dirinya nescaya Allah akan mencukupkan kamu.” [Al-Hirani, Tuhful ‘Uqul ‘an Ali Rasul, Bab Apa yang ku lihat tentang al-Imam Hussein  bin ‘Ali, hlm. 175]
PERANAN DAN PERJUANGAN AL-IMAM HUSSEIN ‘A.S
Dalam hal kita mengikuti jejak-jejak kehidupan Al-Hussein ‘a.s. nescaya kita akan mengesani betapa mendalamnya peranan beliau di dalam kehidupan Islam. Lebih-lebih lagi sumbangan beliau untuk mengembalikan umat manusia ke jalan yang lurus selepas didapati tunggak pemerintahan telah beralih ke tangan dinasti Umaiyah yang menghancurkan konsep Khilafah dan Imamah yang murni sebagaimana yang dikehendaki oleh syari’at Islam. Peranan yang didokongi oleh al-Hussein ‘a.s. sejak beliau masih muda remaja lagi iaitu ketika ayahandanya Ali bin Abu Talib as. menegakkan pemerintahan Islam di Madinah. al-Hussein ‘á.s. beserta saudaranya Sayidina Hasan ‘a.s. turut menyertai beberapa peperangan untuk menegakkan Imamah Amir al-Mu’minin Ali bin Abu Talib as. Umpama bapa saudarara beliau menyertai tiga peperangan yang amat penting iaitu Perang Jamal, Siffin dan Nahrawan yang didokongi oleh ayahandanya Amir Mu’minin Ali, saudaranya al-Hasan dan para sahabat Rasulullah (saw) yang cintakan ahlul Bayt rasulnya serta para tabi’in radhiyallah-hu ‘anhum.
Selanjutnya, apabila saudaranya al-Hasan memegang amanah Imamah, maka al-Hussein tetap menjadi panglima tentera yang ta’at kepada saudaranya itu serta turut merasai pahit maungnva perjuangan yang didokong oleh kekandanya itu. Seluruh peristiwa yang dilalui menjadi sempadan dan pedoman baginya. Sehinggalah beliau turut kembali semula ke Madinah dari Kufah yang menjadi pusat pemerintahan ayahanda mereka. Demikianlah juga para anggota ahlul Bayt ‘a.s. turut menyumbangkan peranan mereka dalam menegakkan dan mempertahankan pengajaran Islam yang dibawa dan diasaskan oleh datuk mereka Rasulullah saw Sumbangan mereka yang berpengaruh itu bolehlah diperhatikan dengan perjuangan al-Hussein ‘a.s. yang sanggup mengorbankan harta, nyawa dan darah untuk menegakkan syari’at Islam.
Selepas kesyahidan saudaranya Sayidina Hassan ‘a.s. yang diracun oleh ejen-ejen musuh ahlul bayt maka peranan Al Hussein ‘a.s. berada ditahap yang baru pula. Ini disebabkan era kehidupan yang dilaluinya lebib mencabar akibat Bani Umayyah semakin melampau menentang dasar Islam terutaman dalam bidang politik dan pemerintahan. Keadaan ini sering terjadi dikalangan keturunan Ahlul bayt ‘a.s. yang membataskan peranan mereka juga berasaskan situasi kemasyarakatan pemikiran dan suasana politik semasa. Sesungguhnya a!Hussein ‘a.s. telah menemui satu jalan baru yang terbentang di hadapannya untuk mengembeling harakah atau pergerakan Islam yang lebih maju dan radikal bagi menghadapi konspirasi golongan munafiq yang memegang tampuk pemerintahan pada masa itu. Pergerakan Islam semakin memerlukan tindakan yang lebih terkehadapan dan matang berikutan suasana gawat ekoran kewafatan  Hassan a.s. Ini disebabkan, walaupun Bani Umayah menguasai pemerintahan secara formal, namun kepimpinan umat secara rohaniah dan hakiki berada ditangan para Ahlul Bayt Rasulullah saw Dasar ahlul bayt dan keturunanya sememangnya telah ditetapkan oleh syari’at Islam untuk memimpin umat Islam dan dunia. Garisan Ilahi ini telah digariskan dengau tegas oleli Rasulullah SAW di dalam hadith-hadithnya serta sirahnya.
Antara hadith tersehut ialah yang diriwayatkan oleh Jahir bin Samrah r.d. yang berkata; Aku telah menemui Rasulullah saw bersama dengan bapaku dan aku mendengar Rasulullah saw bersabda yang bermaksud Sesungguhnya Urusan ini (Islam) tidak akan selesai dilaksanakan melainkan telah datang dikalangan mereka dua belas orang khalifah. Berikutnya Rasulullah saw bercakap secara sulit dengan bapaku. Kemudiannya aku bertanya apakah yang disabdakan olehnya. Lalu bapaku berkata Rasulullah saw bersabda; Kesemua mereka itu adalah dari kaum Quraisy.[Lihat Sahih Muslim, Juzu’ 2, Bab Imarah, hadith ini keluarkan dalam berbagai sandaran dan jalan serta dengan berbagai lafaz yang hampir sama, lihat juga Sahih Bukhari, at-Tirmidzi dan Abu Daud dalam bab yang sama.]
Di dalam suatu hadith yang lain Ubabah bin Rab’i meriwayatkan pula Jabir katanya: Rasulullah saw hersabda maksudnya; Aku adalah pemimpin para Nabi dan Ali adalah pemimpin para pemegang wasiat., Adapun pemegang wasiatku selepasku adalah seramai dua belas orang Ali adalah yang paling awal dikalangan mereka dan yang akhirnya ialah Imam Al-Qaim Al-Mahdi.[Lihat kitab Yanabi’ al-Mawaddah tulisan al-Hamawi, Juzu’ 11, bab 77]
Manakala Salman al-Farisi pula telah berkata; Aku telah datang menemui Rasulullah saw sedangkan junjungan pada masa itu sedang meriba Saidina Hussein ‘a.s serta mengucup mulutnya lalu Rasulullah s. ‘a.w bersabda kepada al-Hussein ‘a.s, Engkau adalah pemimpin (sayyid) putera kepada sayyid dan saudara kepada sayyid, dan engkau Imam putera kepada Imam seta saudara kepada imam, dan engkau pemegang amanah Allah (hujjah) putera kepada hujjah serta saudara kepada hujjah serta bapa kepada sembilan orang Imam, yang kesembilannya dibangkitkan ialah al-Mahdi. [Lihat kitab yang sama dengan huraian oleh Ibn Khawarizmi]
Boleh dikatakan terdapat berpuluh-puluh hadith dan keterangan-keterangan yang jelas mengenai konsep Imam dua belas khalifah 12 selepas Rasulullah saw Menurut Sheikh al-Qunduzi, Rasulullah saw mengisytiharkan khalifah-khalifah selepasnya berjumlah 12 orang sebanyak seratus hadith yang menyebut nama-nama mereka dengan jelas, manakala seratus hadith yang lain disebut secara umum.[Sila rujuk kitab Yanabi al-Mawaddah oleh Syeikh al-Qunduzi, Juzu’ 3 di dalam menerangkan bab Imam dua belas dan nama-nama mereka]
Apabila kita kembali memperkatakan Imamah al-Hussein ‘a.s maka perhatikan kita agak istimewa mengenai keistimewaan kepimpinan beliau dan situasi politik yang wujud di zamannya sehingga tindakan-tindakannya menjadi terkehadapan dalam menentang Thoghut dan penguasa yang zalim serta menyeleweng pada masa itu. Sungguhpun demikian tindakan dan peranan al-Hussein ‘a.s tetap dibataskan oleh kehendak syariat Islam semata-mata. Maka yang demikian itu kebangkitan Hussein ‘a.s mencetuskan revolusi Islam. Revolusi al-Hussein‘a.s dianggap sebagai revolusioner Islam yang kedua selepas Rasulullah saw [Ath-Thair al-Thani].

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s