Dialah Sayyidah Zainab al-Kubro

Posted: 2 Mei 2010 in SIRAH

Dialah Zainab putri Nabi al-Amin
Dialah putri Fathimah dan Ali  wa.shi Nabi
Dialah saudari Ha.san dan Husein cucu Nabi
Dan dialah   simbol ketegaran dan keberanian

Kelahiran dan Nama
Sayyidah Zainab a.s. adalah putri dan anak ketiga dari pa.sangan manusia suci lagi agung Sayidina Ali a.s. dan Sayyidah Fathimah Zahra a.s. Ibunya Sayyidah Fathimah Zahra a.s adalah putri tercinta Ra.sulullah S.A.W dan wanita yang sangat mirip dengan Ra.sulullah S.A.W dalam hal kesempurnaan, keutamaan dan akhlak. Sayyidah Fathimah Zahra a.s. memiliki segala kesempurnaan dan keutamaan yang tidak dimiliki oleh ketiga saudari lainnya Zainab, Ruqayyah dan Ummu Kultsum. Ayahnya Sayidina Ali a.s. adalah wa.shi Ra.sulullah S.A.W, orang yang pertama kali beriman kepada Ra.sulullah S.A.W dan pahlawan dalam berbagai peperangan melawan orang-orang kafir.  Datuknya Nabi Muhammad S.A.W adalah manusia tersuci dan tersempurna di seluruh alam semesta. Sedang neneknya adalah Sayyidah Khadijah, perempuan pertama yang beriman kepada Nabi Muhammad S.A.W. Dalam pangkuan para manusia suci inilah Sayyidah Zainab a.s. dididik dan dibesarkan. Beliau besar di bawah naungan pancaran wahyu Ilahi.[1]

Berda.sarkan pendapat terma.syhur terdapat pendapat lain tentang hal ini beliau lahir pada tanggal 5 Jumadil Awal tahun 6 Hijrah Qamariah di Madinah. Dalam sejarah disebutkan bahwa ketika berita kelahiran Sayyidah Zainab a.s sampai kepada Nabi Muhammad S.A.W, beliau langsung menuju rumah Sayyidah Fathimah Zahra a.s. Sesampainya di rumah beliau berkata: “Wahai putriku, bawalah kemari cucuku”. Ketika bayi mungil tersebut berada di pangkuannya, beliau memeluk dan meletakkan pipi mulianya di pipi bayi tersebut. Kemudian beliau menangis dengan sangat kera.s hingga air matanya bercucuran. Menyaksikan hal itu kemudian Sayyidah Fathimah Zahra a.s bertanya: “Wahai ayahku, semoga Allah swt tidak membuat matamu menangis, kenapa engkau menangis?” “Wahai putriku, wahai Fathimah, ketahuilah. Bayi ini akan ditimpa berbagai musibah dan menghadapi berbagai cobaan. Wahai putriku, wahai belahan jiwaku dan cahaya mataku, ketahuilah. Barang siapa yang menangis untuknya karena segala musibah yang menimpanya maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang menangis untuk kedua saudaranya,” jawab Ra.sulullah S.A.W. Setelah itu kemudian Nabi Muhammad S.A.W memberi nama bayi tersebut Zainab.[2]

Dalam kitab Na.sikh at-Tawarikh terdapat versi yang cukup berbeza tentang kisah penamaan Sayyidah Zainab a.s. Disebutkan bahwa setelah kelahiran Sayyidah Zainab a.s Sayidina Ali a.s tidak langsung memberikan nama kepadanya. Ini membuat Sayyidah Fathimah Zahra a.s menanyakan sebabnya kepada Sayidina Ali. Sayidina Ali a.s menjawab: “Kita  tunggu saja sampai Ra.sulullah S.A.W sendiri yang memberikan nama kepadanya”.  Setelah mendengar hal itu, Sayyidah Fathimah Zahra a.s menggendong bayinya dan menuju rumah Rasulullah S.A.W untuk mengemukakan perkara tersebut. Pada saat itu turunlah Malaikat Jibril a.s dan berkata kepada Ra.sulullah S.A.W: “Wahai utusan Allah, Allah swt telah mengirim salam untukmu dan Dia berfirman: “Namakan ia Zainab”. Namun setelah itu Malaikat Jibril a.s menangis. Menyaksikan hal itu, Rasulullah S.A.W menanyakan sebab tangisan Jibril. Malaikat Jibril a.s menjawab: “Sejak awal sampai akhir, kehidupan bayi ini akan dipenuhi berbagai musibah dan cobaan”.[3]

Berkaitan dengan akar kata nama Sayyidah Zainab a.s terdapat beberapa pendapat. Sebagian mengatakan nama beliau hanya terdiri dari satu suku kata yang berarti nama salah satu pohon yang cantik dan harum baunya, sebagaimana yang disebutkan dalam kamus Lisanul Arab karya Ibnu Manzur. Kelompok lain berpendapat nama beliau terdiri dari dua suku kata yaitu Zain  dan Abun yang berarti ‘perhiasan ayah’.

Sebagaimana ibunya, Sayyidah Fathimah Zahra, memiliki gelar Ummu Abiiha (ibu ayahnya) yang mengisyaratkan hubungan yang amat dekat antara seorang anak perempuan dengan ayahnya, Sayyidah Zainab a.s juga memiliki gelar Zain Abiha (hiasan ayahnya). Untuk mempersingkat nama atau karena telah sering digunakan maka alifnya dibuang dan menjadi ‘Zainab’.[4] Yang pasti, baik nama Sayyidah Zainab hanya terdiri dari satu suku kata ataupun dua suku kata, kedua-duanya mengisyaratkan arti dan makna yang sangat tinggi dan indah.

Masa Kanak-Kanak
Sayyidah Zainab al-Kubro tumbuh dan berkembang di rumah tempat para malaikat berlalu lalang. Di rumah tempat nama-nama suci Allah selalu dikumandangkan, yang para penghuninya merupakan memilki segala kesempurnaan; kezuhudan, keberanian, kedermawanan, ahklak mulia, penghambaan, keadilan dan segala sifat sempurna lainnya.
Datuknya Rasulullah S.A.W yang merupakan manusia tersempurna di alam semesta dan penghulu para nabi cukup memberikan pengaruh positif pada pertumbuhan kepribadian beliau. Nabi Muhammad S.A.W senantiasa memperhatikan para putra dan putri Sayyidah Fathimah Zahra a.s dengan sepenuhnya serta mengasihi mereka. Tidak ada seorang datuk pun yang memberikan perhatian dan kasih sayang kepada cucunya lebih dari yang dilakukan Ra.sulullah S.A.W terhadap cucu-cucunya.  Ketika beliau melihat para putra dan putri Sayyidah Fathimah Zahra a.s, beliau selalu mencium, memeluk, merapatkan pipinya yang suci ke pipi cucu-cucunya bahkan beliau bermain kuda-kudaan dengan mereka. Tentu saja perbuatan Rasulullah tersebut tidak hanya berdasarkan hubungan alamiah antara seorang datuk dan cucu saja. Perbuatan beliau sebagai seorang nabi tidak dilakukan berdasarkan hawa nafsu sebagaimana dapat kita semak dari firman Allah S.A.W berikut ini: “Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Nabi Muhammad S.A.W) menurut kemauan hawa nafsunya, ucapannya itu tiada lain hanyalah berdasarkan wahyu yang diwahyukan (kepadanya)”.[5] Selain itu, segala prilaku beliau merupakan contoh dan teladan bagi umatnya dalam memperlakukan anak-anak.

Hanya sebentar  Sayyidah Zainab al-Kubro dapat merasakan kasih sayang datuknya. Ra.sulullah S.A.W wafat di saat beliau berusia lima tahun. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa ketika Sayyidah Zainab al-Kubro masih kanak-kanak, beliau bermimpi buruk. Lantas beliau menceritakan mimpi tersebut kepada datuknya seraya berkata: “Wahai datukku, semalam aku bermimpi buruk. Aku melihat angin taufan sangat kencang dan langit menjadi gelap. Angin kencang telah membawaku ke sana dan ke mari. Tiba-tiba aku melihat sebuah pohon besar, lalu aku memegang pohon itu. Namun angin kencang telah membuat pohon besar tersebut tumbang dan jatuh ke atas tanah. Kemudian aku memegang salah satu dahannya yang besar, namun angin kencang juga membuatnya patah. Setelah itu aku pun memegang dahan lainnya, namun sama seperti sebelumnya, angin kencang mematahkan dahan tersebut. Lalu  aku memegang dahan ketiga dan keempat, sampai akhirnya aku terbangun”. Ra.sulullah S.A.W menangis setelah mendengarkan cerita beliau dan berkata: “Ketahuilah wahai cucuku, pohon besar itu adalah datukmu. Sedangkan kedua dahan pohon besar tersebut ialah ayah dan ibumu. Sementara kedua dahan lainnya adalah kedua saudaramu Hasan dan Hussein. Dengan ketiadaan mereka, dunia akan menjadi gelap gulita dan engkau akan memakai pakaian hitam sebagai lambang duka cita atas musibah yang menimpa mereka”.[6]

Dari riwayat ini kita dapat memahami bahwa jauh hari, Sayyidah Zainab al-Kubro telah dipersiapkan secara mental dan spritual untuk menghadapi berbagai peristiwa pedih sehingga beliau dapat melaksanakan tugas yang dipikulnya dengan baik. Dan salah satu peristiwa pedih itu adalah peristiwa Asyura. Setelah datuknya wafat, beliau menyaksikan berbagai penindasan yang menimpa ayah dan ibunya. Beliau menyaksikan bagaimana hak kekhalifahan ayahnya dirampas. Beliau menyaksikan bagaimana ibunya mendatangi satu persatu rumah para Muhajirin dan Anshar untuk mengingatkan baiat mereka kepada  Sayidina Ali a.s di Ghadir Khum. Beliau menemani ibunya ketika menyampaikan khutbah di masjid. Beliau juga menyaksikan pembakaran dan pencerobohan rumahnya yang akhirnya menyebabkan ibu tercintanya sakit.[7]

Musibah demi musibah telah menimpa putri mungil tersebut.  Ibunnya syahid padahal kesedihan karena ketiadaan datuknya belum seluruhnya sirna. Bersama para saudaranya, beliau juga ikut menemani sang ayah menguburkan jenazah ibunya di kesunyian malam.  Sehingga kehari ini tiada siapa yang mengetahui dimana pusaranya. Ia menjadi suatu rahsia dan menjadi tanda tanya kenapa dan mengapa. Tiada yang terjawab kecuali dengan hati yg terbuka melalui kecintaan kepada keluarganya.

Pernikahan dan Keluarga Sayyidah Zainab a.s
Sejarah tidak menjelaskan secara terperinci masa remaja Sayyidah Zainab a.s. Namun Thabari menukilkan ucapan beberapa orang yang melihat beliau: “Seakan-akan aku melihat seorang perempuan bagaikan mentari yang dengan cepat telah keluar dari dalam kemah”. Bahkan sewaktu Sayyidah Zainab a.s hendak berangkat ke Mesir sehubungan  tragedi Karbala, Abdullah bin Ayub Anshori berkata: “ Sumpah demi Allah swt, aku tidak pernah melihat wajah sepertinya yang bagaikan  rembulan”. Padahal waktu itu beliau sudah berumur sekitar lima puluh tahun dan telah mengalami tragedi Karbala yang sangat menyedihkan. Sedikit banyaknya, peristiwa itu pasti mempengaruhi kondisi jasmani dan psikologis beliau.

Tentu di masa remajanya, beliau lebih dari ungkapan-ungkapan yang diucapkan oleh orang-orang yang pernah melihat beliau.  Ketika beliau telah mencapai usia pernikahan, banyak sekali orang yang datang menemui Sayidina Ali a.s untuk menyuntingnya. Namun Abdullah bin Jafarlah yang beruntung dan paling sepadan dari yang lainnya.[8] Abdullah bin Jafar adalah putra dari Jafar bin Abdul Muthalib yang syahid dalam perang Mu’tah dan mendapat gelar ‘dzul jinahain’ yang berarti memiliki dua sayap. Gelaran ini diberikan kepada beliau karena kedua tangan beliau putus dilibas pedang musuh dalam peperangan untuk mempertahankan bendera yang ada di tangannya.

Mengenai putra-putra Abdullah bin Jafar bin Abdul Muthalib terdapat perbedaan pendapat. Syeikh Thabarsi dalam kitabnya A’lamur-Waraa menyebutkan bahwa putra-putri beliau adalah Ali, Jafar, Aun Akbar dan Ummu Kultsum. Sementara dalam kitab Tadzkiratul Khawa.sh karya Sibthi ibnu Jauzi disebutkan bahwa putra-putri beliau ialah Ali, Aun al-Akbar, Muhammad, Abbas dan Ummu Kultsum. Muhammad dan Aun juga syahid di Karbala.[9]

Kesempurnaan dan Keutamaan
Sayyidah Zainab a.s merupakan manusia sempurna. Beliau memiliki berbagai keutamaan sebagaimana yang telah dijelaskan dalam berbagai riwayat. Pada kesempatan ini hanya akan menjelaskan beberapa keutamaan saja melalui beberapa gelaran beliau:

1.Aqiilah Bani Hasyim
Salah satu gelar termasyhur beliau ialah ‘Aqiilah’. Abul Faraj Ishfahani dalam karyanya ‘Muqotil at-Tholibin’, ketika menjelaskan biografi Aun bin Abdullah bin Jafar berkata: “Ibunya adalah Zainab al-Aqiilah. Ibnu Abbas meriwayatkan khutbah Fadak Fathimah Zahra darinya seraya berkata; “Aqiilah kami Zainab binti Ali telah meriwayatkan kepada kami…”. Berkaitan dengan kata ‘aqiilah’ terdapat beberapa pendapat. Ibnu Duraid dalam karyanya ‘Jamharotul Loghah’ berkata: “Fulanah Aqiilatul qaum berarti perempuan itu ialah perempuan paling mulia dari kaumnya. Begitu juga pendapat Ibnu Zakaria dalam ‘Mujmal Lughah’ dan Jauhari dalam ‘Shuhahul Luhgah’. Pendapat ini merupakan pandangan beberapa sarjana bahasa. Namun sebenarnya dapat kita katakan bahwa ‘Aqiilah’ adalah shighah mubalaghah (bentuk kata dalam tata bahasa arab yang menunjukkan amat atau sangat) dan memiliki akar kata ‘aqal’, yang artinya sangat berakal atau dengan kata lain keupayaan dan kesempurnaan akalnya amat besar.[10]

Gelar terhormat yang dimiliki pribadi agung seperti sayyidah Zainab a.s ini dapat lebih kita pahami jika kita menyemak dan menelaah secara saksama isi khutbah Fadak Sayyidah Fathimah Zahra a.s. Bagaimana tidak, khutbah beliau yang amat panjang, sangat fasih dan sarat dengan pembahasan yang sangat tinggi telah diriwayatkan oleh  Ibnu Abbas dari Sayyidah Zainab a.s. Khutbah Fadak berisi pembahasan tentang kenabian dan risalah Nabi S.A.W, falsafah dan hikmah hukum-hukum Islam, penuntutan hak-haknya yang telah dirampas, penghakiman atas Abu Qahafah (Abu Bakar) dan kondisi umat setelah wafatnya Nabi S.A.W dan lain sebagainya.[11] Padahal, ketika Sayyidah Fathimah Zahra a.s menyampaikan khutbahnya, Sayyidah Zainab a.s kala itu baru berusia lima tahun.

Terdapat kisah tentang Sayyidah Zainab a.s dalam berbagai sumber yang mengisyaratkan tentang kesempurnaan akal beliau. Dalam sejarah disebutkan bahwa pada suatu hari Sayyidah Zainab a.s yang masih kecil bertanya kepada ayahnya, “Ayahku sayang, apakah engkau mencintaiku?” Kemudian Sayidina Ali a.s menjawab: “Bagaimana mungkin aku tidak mencintaimu, kau adalah buah hatiku”. Lantas beliau berkata lagi: “Ayahku sayang, kecintaan hanyalah untuk Allah swt sementara kasih sayang untuk kita”. Dalam riwayat lain pula dijelaskan bahwa suatu hari Sayidina Ali a.s mendudukkan putrinya Zainab al-Kubro dipangkuannya lalu beliau mengayun-ayun kepalanya seraya berkata: “Putriku sayang, katakan satu.” “Satu,” sambut beliau. Kemudian Sayidina Ali a.s melanjutkan ucapannya: “Putriku sayang, katakan dua”. Namun Sayyidah Zainab a.s diam tidak menjawabnya. Lalu Sayidina Ali a.s mengulangi ucapannya seraya berkata: “Berkatalah wahai cahaya mataku”. Sayyidah Zainab a.s menjawab: “Ayahku sayang, aku tidak dapat mengatakan dua dengan lidahku yang dengannya aku katakan satu.” Mendengar hal itu lantas Sayidina Ali a.s memeluknya dan menciumnya dengan penuh rasa haru.

Kisah di atas menunjukkan kematangan dan kemampuan daya pikir lebih yang dimiliki oleh Sayyidah Zainab a.s. Padahal beliau kala itu masih kanak-kanak. Dalam usia ini beliau dapat memahami bahwa ketika beliau telah mengatakan Tuhan itu Esa maka beliau tidak dapat mengatakan  Tuhan itu dua.[12] Dengan kata lain beliau telah memahami kontradiksi antara konsep monoteisma dengan dualisma. Inilah salah satu perwujudan gelar ‘aqiilah (sangat berakal)’ yang disandang Sayyidah Zainab al-Kubra berupa kematangan dan kecerdasan akal tinggi.

2.Berilmu tanpa ada yang Mengajari (Aalimah Ghair Muta’allimah)
Keutamaan lain yang dimiliki Sayyidah Zainab a.s ialah beliau memiliki ilmu tanpa ada yang mengajari. Gelaran kehormatan ini dianugrahkan oleh Sayidina Ali Zainal Abidin a.s kepada beliau. Jelas penganugrahan gelaran tersebut bukan atas dasar nepotisma kerena beliau adalah ibu saudaranya akan tetapi atas dasar kedudukan tinggi yang memang dimiliki oleh Sayyidah Zainab a.s. Sayidina Ali Zainal Abidin a.s mengetahui keutamaan, kedudukan dan kemuliaan yang dimiliki ibu saudaranya. Sayidina Ali Zainal Abidin a.s berkata: “Wahai makcikku…dan engkau, alhamdulillah, berilmu tanpa ada yang mengajarimu dan memahami (sesuatu permasalahan) tanpa ada yang memahamkannya (menerangkannya).”

Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam beberapa sumber hukum Islam—Al- Qur’an dan hadis), salah satu bentuk kesempurnaan manusia adalah derajat keilmuan yang dimilikinya. Ilmu merupakan salah satu sumber kesempurnaan manusia dan merupakan santapan ruh. Ilmu merupakan salah satu sumber kemulian dan keagungan manusia. Al-Qur’an dengan jelas menerangkan tentang perbedaan kedudukan orang yang berilmu dan tidak berilmu: “Adakah sama kedudukan orang-orang yang mengetahui (berilmu) dan orang-orang yang tidak mengetahui (berilmu)”.[13] Ayat ini bukan berarti Allah bertanya kepada manusia apakah sama orang yang mengetahui dan tidak mengetahui. Akan tetapi pertanyaan merupakan sebuah pernyataan yang menjelaskan bahwa kedudukan orang yang berilmu dan tidak berilmu tidaklah sama (istifham taqriri).[14]

Sebagian riwayat juga menjelaskan tentang kewajiban mencari ilmu, sebagaimana sabda Rasulullah S.A.W: ”Mencari ilmu adalah kewajiban seorang muslim dan muslimah.” Masih banyak riwayat lain yang menjelaskan tentang keutamaan ilmu.[15] Ilmu merupakan salah satu sumber kesempurnaan, kemuliaan, derajat tinggi bagi manusia sehingga Islam selalu memerintahkan kepada umatnya untuk menuntut ilmu. Dan Sayyidah Zainab al-Kubra memiliki kesempurnaan tersebut tanpa ada yang mengajarinya sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Sayidina Ali Zainal Abidin a.s. Beliau berilmu tanpa belajar, apa itu bukan merupakan suatu kedudukan yang sangat agung? Karena tidak semua orang dapat mencapai maqam dan kedudukan tersebut. Beliau merupakan salah satu perwujudan hadis Ra.sulullah S.A.W yang berbunyi: “Ilmu adalah cahaya yang disematkan Allah swt pada hati orang-orang yang dikehendaki-Nya”.[16]Dalam sejarah disebutkan bahwa ketika Sayyidah Zainab a.s bersama keluarganya tinggal di Kufah di masa pemerintahan Sayidina Ali a.s, para lelaki penduduk Kufah mendatangi Sayidina Ali a.s dan memohon kepada beliau supaya putrinya, Sayyidah Zainab a.s, mengajarkan ilmu-ilmu agama kepada istri dan anak-anak perempuan mereka. Sayidina Ali a.s menerima permohonan tersebut dan Sayyidah Zainab a.s pun mengajari mereka. Sejarah membuktikan dalam tempo empat tahun atau lebih, banyak para perempuan yang berguru dan belajar kepada beliau.

Pada suatu hari Sayidina Ali a.s mendengar Sayyidah Zainab a.s mengajarkan tafsir huruf-huruf muqatta’ah (yang terpotong-potong) dari al-Qur’an. Khususnya tentang huruf permulaan surat Maryam, yaitu huruf “Kaaf, Haa, Yaa, Ain Shaad”. Selesai mengajar, Sayidina Ali a.s mendatangi beliau dan berkata kepadanya: “Wahai cahaya mataku, tahukah bahwa huruf-huruf ini (Kaaf, Haa, Yaa, Ain, Shaad) merupakan kunci rahsia peristiwa yang akan menimpa engkau dan saudaramu Husain di padang Karbala?” Setelah itu lantas Sayidina Ali a.s menjelaskan secara terperinci kepada beliau tentang tragedi Asyuro yang akan menimpanya.[17]

Derajat keilmuan beliaupun telah terbukti ketika beliau berdebat dan berdialog dengan Ibnu Ziyad di Kufah. Beliau menjawab dengan tangkas segala pernyataan Ibnu Ziyad. Sampai akhirnya Ibnu Ziyad marah kepadanya, karena setiap ia berkata Sayyidah Zainab a.s dengan tangkas akan mematahkan segala argumentasinya. Sampai akhirnya Ibnu Ziyad  tidak mampu lagi berdialog dengannya dan berkata; “Sumpah demi Tuhan, perempuan ini penyair dan pandai berbicara seperti ayahnya”. Begitu pula  khutbah-khutbah beliau lainnya yang disampaikan di Kufah maupun di Syam.
3.Kekasih Allah (Waliyatullah)
Sayyidah Zainab a.s adalah wanita mulia yang lahir dan dibesarkan dalam keluarga mulia, Ahlul Bayt Nabi para kekasih Ilahi. Beliau besar dalam lingkungan para urafa’ utama yang menjadi kiblat semua urafa’ yang ada. Maka bukanlah suatu hal yang mengherankan jika beliau pun akhirnya menjadi seorang arifah tangguh yang memiliki makrifat yang begitu tinggi. Sebagaimana yang telah diketahui, tujuan utama irfan adalah menyatu (fana’) dengan Sang Kekasih Sejati, pencipta alam semesta. Itulah puncak irfan yang didamba oleh setiap manusia sempurna kekasih Ilahi.
Salah satu bukti tingkatan makrifat agung yang dimiliki oleh Sayyidah Zainab a.s adalah beliau selalu pasrah terhadap apapun yang dikehendaki oleh Kekasih Sejatinya. Pecinta sejati  adalah pribadi yang selalu ‘sehati’ dan ‘serasa’ dengan kekasihnya, meskipun apa yang dikehendaki oleh Sang Kekasih sekilas begitu pahit, namun seorang pecinta akan rela menerima kepahitan tersebut sebagai bukti cinta kasihnya terhadap Sang Kekasih Sejati. Inilah yang dilakukan Sayyidah Zainab a.s terhadap Kekasih Sejatinya dalam tragedi Karbala. Kendati beliau harus kehilangan imam yang dicintainya, anggota keluarga, sanak saudara dan sahabat-sahabat setianya namun pada tragedi Karbala yang sangat memilukan hati itu, Sayyidah Zainab a.s berkata: “Ya Allah, hamba bersabar atas segala ketentuan-Mu”.

Berbekal makrifat yang begitu tinggi, Sayyidah Zainab a.s yakin bahwa Sang Kekasih adalah Dzat yang maha benar, bijak, indah dan memiliki sifat-sifat kesempurnaan lainnya. Segala sesuatu yang dirasa dan dilihat oleh beliau di alam semesta merupakan perwujudan dari sifat-sifat dan nama-nama Sang Kekasih. Semua tidak akan lepas dari Sang Kekasih karena Ia adalah maha pencipta.

Keteraturan alam yang kadang diwarnai dengan pahit dan getir kehidupan merupakan konsekuensi alam kebendaan yang telah disifati dengan alam yang penuh ujian (alam tazahum). Namun semua ujian tadi mempercayakan keteraturan yang indah dan sesuai dengan hikmah Ilahi, Sang Kekasih Sejati. Oleh karena itu, ketika menyaksikan tragedi Karbala yang menyayat hati itu Sayyidah Zainab a.s masih sempat berkata: “Tidaklah aku lihat (semua musibah ini ) melainkan sesuatu yang indah”.[18]

Kesyahidan Sayidina Husein a.s dengan cara yang sangat tragis itu adalah kehendak Ilahi yang selalu sesuai dengan hikmah Ilahi dan keteraturan alam semesta. Inilah perwujudan dari iman terhadap takdir Ilahi. Tentu keyakinan ini tidak akan menjerumuskan manusia kepada keyakinan determinisma (Jabriyah), sebagaimana yang telah banyak dihuraikan dalam kajian teology (kalam) pengikut Imamiyah. Makrifat Ilahi telah mampu menghantarkan beliau pada tingkatan manusia sempurna (insan kamil). Cinta Ilahi telah menggelora di dalam hati Sayyidah Zainab a.s. Cinta murni yang suci dan tulus itu mampu membakar segala cinta kasih terhadap selain-Nya. Kecintaan itu telah ditukar dengan berbagai kecintaan-kecintaan lainnya. Sayyidah Zainab a.s rela kehilangan saudara tercintanya (Abul Fadh Abbas), anak saudara kesayangannya (Ali Akbar), sanak saudara, kerabat dan sahabat lainnya demi keridhaan Ilahi, Sang Kekasih Sejati.

Bukan hanya itu, beliaupun rela mengorbankan imam yang merupakan al-Quran berbicara (al-Quran an-Nathiq) dan sekutu al-Quran yang diam (al-Quran a.s-Shamith) yang keduanya sangat dicintai dan ditaati beliau sebagai penerus tongkat penyuluh kepemimpinan Ilahi di muka bumi. Itu semua direlakan oleh Sayyidah Zainab a.s demi keridhaan Sang Kekasih Ilahi. Oleh karena itu, setelah kesyahidan Sayidina Husein a.s beserta pasukannya yang berjumlah sangat sedikit itu dan rombongan tawanan akan diarak ke Kufah, beliau sempat berkata kepada Sang Kekasih sejatinya dengan ungkapan: “Ya Allah, terimalah persembahan ini dari kami”.[19] Ungkapan ini menunjukkan betapa tingginya makrifat Sayyidah Zainab a.s dan makrifat ini telah menghantarkan beliau kepada cinta Ilahi yang mampu menghilangkan ketergantungan kepada kecintaan manapun. Dengan bekal kecintaan sejati inilah akhirnya beliau sampai pada derajat fana’ (menyatu) dengan Allah. Menyatu dalam ridha dan cinta-Nya, sehingga akhirnya beliau mendapat gelar kekasih sejati Allah (waliyullah).

4.Banyak Beribadah (‘Abiidah)
Maqam penghambaan merupakan salah satu kedudukan tertinggi seorang mukmin sejati. Al-Quran sendiri telah menjelaskan bahwa salah satu falsafah penciptaan manusia dan jin adalah agar manusia dan jin mencapai maqam ubudiyah. “Dan tidaklah Aku ciptakan manusia dan jin melainkan untuk menyembah-Ku”.[20] Perwujudan penghambaan dan penyembahan Allah swt ialah melalui ibadah, baik ibadah dalam makna khusus atau dalam makna umum. Ibadah dalam makna umum adalah melakukan segala perbuatan dengan niat karena Allah swt. Sementara ibadah dalam arti khusus adalah melakukan ritual-ritual agama tertentu baik yang bersifat wajib maupun mustahab (sunah). Sejarah telah mencatat ibadah beliau lakukan, baik ibadah wajib maupun nafilah yang tidak pernah beliau tinggalkan meskipun dalam keadaan sulit.  Bahkan pada malam Asyuro beliau menghabiskan waktunya dengan shalat malam dan bermunajat kepada  kekasih sejatinya, Allah swt.

Ketika menggambarkan maqam ubudiyyah Sayyidah Zainab a.s, Sayidina Ali Zainal Abidin a.s berkata: “Sesungguhnya makcik ku Zainab telah mendirikan shalat wajib dan nafilahnya dalam keadaan berdiri. Namun kadang-kadang di sebagian rumah beliau lakukan dalam keadaan duduk. Ketika aku menanyakan sebabnya, beliau menjawab: Aku melaksanakan shalat sambil duduk karena rasa lapar dan lemah yang amat sangat. Sebab selama tiga malam aku telah memberikan bagian makananku kepada anak-anak. Dalam sehari semalam, mereka hanya memakan sepotong roti”.[21] Peristiwa ini terjadi ketika Sayyidah Zainab a.s berada dalam keadaan tertawan dan diarak dari Kufah menuju menuju Syam. Teriknya matahari dan dinginnya malam telah menyiksa beliau dan rombongan tetapi beliau tidak meninggalkan shalat malamnya dalam keadaan sesulit itu.

5.Pepidato Ulung (kata-katanya sangat indah dan sesuai dengan keadaan hadirin)
Hal ini dapat dilihat dalam khutbah beliau baik yang disampaikan di Kufah maupun di hadapan Yazid bin Muawiyah di Syam. Ketika beliau menyampaikan khutbahnya di hadapan penduduk Kufah, khutbah beliau mengingatkan orang-orang akan ayahnya, Sayidina Ali a.s. Mereka melihat seakan-akan Sayidina Ali a.s sendiri yang sedang berkhutbah. Kata-katanya yang indah dan isinya yang begitu mengena sehingga para pendengar menangis dan hanyut dalam kesedihan setelah mendengarnya. Begitu pula khutbah beliau di hadapan Yazid bin Muawiyah di Syam yang mampu mengubah pendapat umum tentang Ahlul-Bayt.

Para hadirin terpesona dengan khutbah-khutbah yang disampaikan Sayyidah Zainab a.s, baik dari sisi isi khutbah maupun ungkapannya (kalimat seperti ini dalam istilah bahasa Arab  disebut fashih dan baligh). Jika orang yang ahli dalam bahasa Arab menelaah khutbah-khutbah Sayyidah Zainab a.s, ia akan memahami dan menikmati keindahan baha.sa beliau. Kelebihan beliau dalam kefasihan dan kebalighan ini diwarisi dari kedua orang tua beliau, Sayidina Ali a.s dan Sayyidah Zahra a.s.Wallahua’lam.

Rujukan:
[1] DR. Aisyah Binti Syathii, Bathlatu Karbala,
[2] Sayyid Nuruddin Jazairi, Kha.shaishu Zainab,.
[3] Muhammad Kazim Qazwini, Zainab al-Kubro minal Mahdi ilal Lahdi [4]  Sayyid Nuruddin Jazairi, Kha.shaishu Zainab,
[5] QS an-Najm:3-4.
[6] Muhammad Kazim Qazwini, Zainab al-Kubro minal Mahdi ilal Lahdi,
[7] Penindasan yang telah menimpa Sayidina Ali a.s dan Sayyidah Zahra a.s pa.sca wafatnya Ra.sulullah saw dapat dilihat dalam berbagai sumber sejarah,
[8] DR. Aisyah Binti Syathii, Bathlatu Karbala,
[9] Muhammad Kazim Qazwini, Zainab al-Kubro minal Mahdi ilal Lahdi,
[10] Ibid, hal:33-34.
[11] Muhammad Kazim Qazwini, Fathimah az-Zahra minal Mahdi ilal lahdi
[12] Muhammad Kazim Qazwini, Zainab al-Kubro minal Mahdi ilal Lahdi, edisiPersia, hal: 39.
[13]  QS az-Zumar: 9.
[14] Sayyid Nuruddin Jazairi, Kha.shaishu Zainab, edisi

[15] Muhammad Rey Syahri, Muntakhab Mizan al-Hikmah, bab ilmu, hal: 396.
[16] Ibid, hal: 404.
[17] Muhammad Kazim Qazwini , Zainab al-Kubro minal Mahdi ilal Lahdi
[18] Ibid, hal: 306.
[19]Ali Nadzari Munfarid, Qisheye Karbalo, hal: 410.
[20] QS, adz-Dzariyat: 56.
[21] Muhammad Kazim Qazwini, Zainab al-Kubro minal Mahdi ilal Lahdi,

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s